Dolar AS Melemah, Euro Menguat Jelang Pemilu AS dan Keputusan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang global mengawali pekan ini dengan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan euro. Investor mencermati sejumlah agenda penting sepanjang pekan, mulai dari pemilihan umum sela (midterm elections) AS hingga keputusan suku bunga bank sentral di sejumlah negara.

Mengutip Reuters, Senin (2/11/2026), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia turun 0,5% ke level 101,45. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terendah dolar AS dalam sebulan terakhir.

Kepala Strategi Valuta Asing Societe Generale, Kit Juckes, mengatakan pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seiring penurunan harga minyak.


"Minat terhadap risiko meningkat, harga minyak turun sehingga kondisi ini sedikit lebih mendukung aset berisiko dan sedikit menekan dolar AS," ujar Juckes.

Salah satu perhatian utama investor adalah pemilihan umum sela AS yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Demokrat dapat mengambil alih kendali Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Berlanjut, Proposal Baru Pembukaan Selat Hormuz Disiapkan

Partai Demokrat diperkirakan memiliki peluang besar untuk memenangkan mayoritas kursi di DPR AS (House of Representatives). Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih berlangsung ketat.

Selain perkembangan politik, investor juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS untuk Oktober yang dijadwalkan keluar pada pekan ini.

Dari kawasan Eropa, euro menguat 0,7% menjadi US$ 1,1234. Penguatan tersebut terjadi meskipun lembaga pemeringkat Fitch merevisi prospek utang Prancis menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada Jumat (30/10/2026).

Sementara itu, pound sterling naik tipis ke level US$ 1,3445. Yen Jepang relatif stabil di posisi 157,64 per dolar AS.

Bank Sentral Jepang (BOJ) menyampaikan bahwa suku bunga riil Jepang belakangan mengalami kenaikan, terutama pada tenor jangka panjang dan sangat panjang. Pernyataan tersebut tercantum dalam laporan lengkap prospek ekonomi triwulanan BOJ yang dirilis pada Senin.

Adapun dolar Australia bergerak terbatas di level US$ 0,7028 menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral Australia akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,85%, atau mendekati level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Bitcoin dan Ethereum Mulai Pulih

Di pasar aset kripto, harga Bitcoin dan Ethereum mulai menunjukkan pemulihan terbatas setelah mengalami tekanan akibat peretasan besar-besaran yang menimpa Binance, bursa kripto terbesar di dunia.

Baca Juga: Manufaktur Asia Melambat, Tekanan Biaya Meningkat

Bitcoin naik 0,5% menjadi US$ 78.184,11 setelah sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan pada Jumat lalu. Ethereum juga menguat 1,5% ke posisi US$ 2.296,44 setelah merosot ke level terendah dalam dua bulan pada pekan sebelumnya.

Binance sebelumnya mengalami insiden keamanan yang menyebabkan pencurian aset senilai US$ 6,3 miliar. Biro Investigasi Federal AS (FBI) menuding Korea Utara berada di balik serangan peretasan tersebut.

Setelah kembali beroperasi, Binance mencatat penarikan dana nasabah mencapai US$ 3,64 miliar atau sekitar 2,1% dari total asetnya. Meski demikian, bursa tersebut menyatakan arus penarikan dana mulai stabil setelah sempat mengalami lonjakan pada tahap awal insiden.

Binance juga menyebut volume setoran dana tetap berada pada tingkat yang cukup besar setelah insiden tersebut.

Peneliti senior HashKey Group, Tim Sun, menilai peretasan tersebut memang mengguncang kepercayaan pasar, tetapi belum memicu kepanikan secara luas di kalangan investor.

"Meski insiden tersebut memberikan guncangan terhadap kepercayaan pasar, sejauh ini belum memicu kepanikan secara luas atau penarikan dana besar-besaran yang terkonsentrasi dari para pengguna," kata Tim Sun.

Ia menambahkan, arus keluar dana dari Binance tidak seluruhnya mencerminkan kepanikan investor.

"Di satu sisi, arus keluar modal kemungkinan mencakup kebutuhan penarikan dana dan penyesuaian aset yang normal. Di sisi lain, sebagian investor mungkin tidak memindahkan dananya ke bursa lain, tetapi memilih menyebarkan risiko aset melalui dompet penyimpanan mandiri atau metode serupa," jelasnya.

Baca Juga: Binance Dibobol US$ 6,3 Miliar, Picu Kekhawatiran Investor Kripto

Harapan Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak

Di sisi lain, perkembangan konflik Timur Tengah juga menjadi perhatian pelaku pasar keuangan global. Meningkatnya harapan terhadap penyelesaian diplomatik konflik antara AS dan Iran turut menekan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah Brent tercatat turun 3,8% pada perdagangan Senin. Penurunan tersebut mencerminkan meredanya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini turut memberikan tekanan terhadap dolar AS karena berkurangnya permintaan terhadap aset yang selama ini dipandang sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Dengan sejumlah agenda politik dan kebijakan moneter yang berlangsung pekan ini, investor diperkirakan masih akan mencermati arah pergerakan mata uang, pasar saham, komoditas, serta aset kripto global.