Dolar AS Melemah, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Kesepakatan Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID – SINGAPURA/LONDON. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (25/5), seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Optimisme tersebut turut menekan harga minyak dunia hingga turun di bawah US$ 100 per barel.

Meski demikian, baik pemerintah AS maupun Iran sama-sama mengecilkan peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Perdagangan di pasar global juga berlangsung lebih sepi karena sejumlah bursa utama, termasuk di AS, Hong Kong, Inggris, dan sebagian besar Eropa, tutup akibat libur nasional sehingga likuiditas pasar menjadi lebih tipis.


Terhadap yen Jepang, dolar AS turun 0,2% ke level 158,89 yen.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan pemerintah akan menambah cadangan dana sebesar US$ 19 miliar untuk subsidi bahan bakar dan membantu meredam tekanan biaya hidup masyarakat. Langkah tersebut juga disertai janji tidak akan menambah total utang baru demi menenangkan pasar obligasi.

Baca Juga: Utusan Senior Iran Dikabarkan Bahas Peluang Kesepakatan Damai dengan AS di Qatar

Di sisi lain, euro menguat 0,40% ke posisi US$ 1,1649, sedangkan poundsterling Inggris naik 0,55% menjadi US$ 1,35044.

Dolar Australia menguat 0,64% ke US$ 0,7174, sementara dolar Selandia Baru atau kiwi naik 0,5% ke level US$ 0,58750.

Indeks dolar AS tercatat turun sekitar 0,3% ke posisi 98,969.

Harapan Kesepakatan AS-Iran Tekan Dolar dan Harga Minyak

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Iran terus berlangsung. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa akan ada kesepakatan yang baik atau Washington akan menangani Iran dengan “cara lain”.

Di pihak lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa sejumlah kesimpulan telah dicapai dalam berbagai topik pembahasan terkait kemungkinan nota kesepahaman dengan AS. Namun, hal itu belum berarti Teheran berada di ambang penandatanganan perjanjian.

Ekonom internasional dan strategi mata uang dari CBA, Samara Hammoud, mengatakan, “Jika dan ketika kesepakatan damai berhasil dicapai, dolar AS akan melemah untuk sementara waktu. Namun setelah dampak awal itu mereda, dolar AS akan kembali menguat karena fundamentalnya lebih baik dibandingkan mata uang utama lainnya.”

Harapan tercapainya perdamaian juga membuat pasar minyak anjlok. Harga minyak Brent turun 5,8% menjadi US$ 97,61 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 5,3% ke level US$ 88,15 per barel.

Pada akhir pekan lalu, sinyal terkait peluang tercapainya kesepakatan masih beragam.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (24/5) menyatakan melalui media sosial bahwa nota kesepahaman terkait perdamaian dengan Iran “sebagian besar telah dinegosiasikan”, dengan kedua negara dan mediator di Pakistan melaporkan adanya kemajuan.

Namun sehari kemudian, Trump menegaskan di Truth Social bahwa blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan “tetap diberlakukan sepenuhnya sampai sebuah perjanjian tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.”

Baca Juga: Trump Dorong Negara Arab dan Muslim Gabung Abraham Accords dalam Kesepakatan Iran

Kepala riset Pepperstone Group Ltd di Melbourne, Chris Weston, mengatakan pasar mulai terbiasa bersikap sabar menunggu terobosan nyata.

“Namun, skenario dasar tercapainya kesepakatan masih tetap kuat, dengan perkembangan akhir pekan lalu semakin memperkuat keyakinan tersebut, meskipun waktunya masih belum jelas,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika harga Brent turun mendekati US$ 90 per barel, maka aset berisiko berpotensi kembali menguat karena ekspektasi inflasi jangka pendek menurun dan peluang kenaikan suku bunga pada 2027 ikut berkurang.

Pasar Menanti Data Ekonomi Penting

Dari Eropa, pengambil kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) Yiannis Stournaras mengatakan bahwa apabila inflasi zona euro melampaui target ECB secara sementara namun signifikan, maka kebijakan moneter perlu disesuaikan secara hati-hati ke arah yang lebih ketat.

Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi penting pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP AS pada Selasa (26/5) serta survei kepercayaan ekonomi zona euro yang akan dirilis Kamis (28/5).

Di pasar aset digital, bitcoin naik 1,1% ke level US$ 77.433,11, sementara ether menguat 1,3% menjadi US$ 2.117,95.