Dolar AS Melemah, Ini Mata Uang yang Layak Dilirik Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada akhir perdagangan Jumat (10/04) yang tercermin dari penguatan mayoritas pasangan mata uang global dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics per 10 April 2026, indeks dolar AS (DXY) dalam seminggu merosot 0,59% ke 98,65. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang utama global

Euro (EUR/USD) menguat 1,79% secara mingguan ke level 1,17, diikuti pound sterling (GBP/USD) yang naik 1,92% ke 1,34.


Penguatan juga terjadi pada dolar Australia (AUD/USD) yang naik 2,46% dan dolar Selandia Baru (NZD/USD) sebesar 2,62% dalam sepekan.

Baca Juga: VKTR Rights Issue 21,87 Miliar Saham Baru Berpotensi Dilusi 33%, Ini Tujuannya

Sementara itu, dolar AS turut melemah terhadap yen Jepang (USD/JPY) sebesar 0,24% secara mingguan ke 159,27, serta terhadap yuan China (USD/CNY) 0,88% ke 6,82. Pelemahan juga terlihat terhadap franc Swiss (USD/CHF) yang turun 1,51% ke level 0,78.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai pelemahan dolar dipengaruhi sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah serta faktor divergensi kebijakan moneter dan ekspektasi inflasi jangka pendek di AS.

Menurut Sutopo, meredanya tensi geopolitik justru mendorong penguatan euro dan pound sterling seiring potensi penurunan harga energi yang dapat meringankan tekanan ekonomi di Eropa.

Selain itu, penguatan signifikan dolar Selandia Baru didorong faktor domestik, terutama proyeksi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

"NZD mendapatkan momentum dari proyeksi kenaikan suku bunga ke level 3% pada akhir tahun," kata Sutopo kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).

Sutopo menilai NZD dan CHF menjadi mata uang yang layak dicermati investor. 

NZD dinilai menarik untuk strategi carry trade apabila kenaikan suku bunga benar terealisasi. Sementara, CHF tetap menjadi aset lindung nilai di tengah ketidakpastian inflasi energi di Eropa.

Ia menyarankan investor tetap mencermati rilis data inflasi AS, terutama Personal Consumption Expenditures (PCE) serta menerapkan strategi diversifikasi. 

Investor juga disarankan menjaga likuiditas dalam dolar AS guna mengantisipasi potensi perubahan arah pasar apabila kondisi geopolitik kembali memanas.

Baca Juga: Emas Anjlok 12% di Maret 2026, WGC: Investor Asia Justru Banyak Borong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News