Dolar AS Melemah, Investor Khawatir Konflik Timur Tengah Bisa Berlanjut Lama



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dollar AS melemah pada Selasa (10/3/2026) karena investor mulai khawatir konflik di Timur Tengah bisa berlangsung lebih lama.  

Beberapa hari terakhir, dolar melonjak setelah serangan AS dan Israel ke Iran membuat harga minyak naik tajam. Namun, pasar tampaknya bereaksi berlebihan terhadap pernyataan Presiden Donald Trump yang mengatakan konflik bisa berakhir lebih cepat. Trump kemudian menegaskan perang juga bisa berlanjut lebih lama, terutama setelah Iran terkena serangan terberat sejak awal konflik.

Michael Brown, analis senior di Pepperstone, mengatakan, pasar jelas terbawa harapan kemarin sore setelah komentar Trump soal kemungkinan akhir cepat konflik. "Tapi belum ada langkah nyata menuju penyelesaian, sehingga sentimen sedikit tertekan,” ujar dia. 


Baca Juga: HSBC Naikkan Target Harga Minyak 2026, Berikut Target dari Analis Lainnya

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, turun 0,1% menjadi 98,74. Euro hampir datar di US$ 1,16318, setelah kemarin menyentuh level terendah lebih dari tiga bulan di US$ 1,1505. Dolar menguat tipis 0,1% terhadap yen menjadi 157,785.

Harga minyak AS turun ke sekitar US$ 87 per barel, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, menandakan investor sedikit menarik diri dari aset aman. Saham AS pun sedikit melemah pada Selasa.

Trump sebelumnya mengatakan perang bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan, tetapi memperingatkan eskalasi serangan jika Teheran memblokir jalur minyak di Selat Hormuz. 

Iran melalui Pasukan Pengawal Revolusi menyebut pernyataan Trump “omong kosong” dan menegaskan blokade akan berlanjut sampai serangan AS dan Israel berhenti.

Harga minyak jatuh lebih dari 5% pada Selasa, menjauh dari level tertinggi pada Senin. Menteri keuangan G7 menyatakan siap mengambil langkah bila harga tetap tinggi, namun belum berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat secara bersama.

Pound Inggris naik 0,1% ke US$ 1,3465, seiring harapan meredanya konflik Timur Tengah yang mengurangi kekhawatiran inflasi bagi ekonomi Inggris yang bergantung pada impor. Pound sempat tertekan karena data ekonomi lemah dan gejolak politik domestik.

Dolar Australia naik 0,6%, sementara dolar AS turun 0,3% terhadap peso Meksiko. Dolar Kanada naik 0,1% ke US$ 1,3575, didorong selera risiko investor yang meningkat meski harga minyak turun.

Baca Juga: Komisi Eropa Minta AS Patuhi Pembatasan Harga Minyak ke Rusia dengan Ketat

Strategi dari Numera Analytics memprediksi dolar Kanada akan menguat dari 1,37 menjadi 1,33 per dollar AS dalam 12 bulan ke depan, seiring harga minyak yang lebih tinggi.

Di pasar kripto, bitcoin naik 1% ke US$ 69,917 namun masih mendekati level terendah multi-tahun yang disentuh awal Februari.