Dolar AS Melemah ke Level Terendah 10 Hari, Pasar Sambut Damai AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam 10 hari terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (15/6/2026), setelah tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang memicu reli aset berisiko serta menekan harga minyak.

Pejabat AS dan Iran pada Minggu (14/6) menyatakan kedua negara telah menyepakati kerangka perjanjian untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Baca Juga: Singapura Bangun Sistem Kliring Emas OTC, Buka Layanan Penyimpanan Emas Bank Sentral


Kabar tersebut langsung menekan harga minyak. Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun lebih dari 4% ke level US$ 83,82 per barel seiring harapan pulihnya pasokan energi global dan meredanya risiko inflasi.

Pelemahan harga minyak turut mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, turun 0,31% ke level 99,492. Posisi ini menjadi yang terendah sejak 5 Juni 2026.

Di pasar valuta asing, euro menguat 0,35% menjadi US$ 1,1607. Poundsterling naik 0,3% ke level US$ 1,3448.

Mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko juga mencatat penguatan. Dolar Australia naik 0,5% menjadi US$ 0,7075, sementara dolar Selandia Baru (kiwi) menguat 0,4% ke level US$ 0,5854.

Baca Juga: Pemimpin Dunia Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Harapkan Stabilitas Ekonomi Global

Chief Market Strategist ATFX Global Nick Twidale menilai, dolar masih berpotensi melanjutkan pelemahan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan, meskipun pergerakannya diperkirakan tidak akan terlalu besar.

"Saya pikir dolar akan terus melemah dalam beberapa sesi ke depan. Mata uang yang lebih sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan yen kemungkinan akan menguat, tetapi saya tidak melihat akan ada pergerakan yang sangat besar," ujar Twidale.

Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Presiden AS Donald Trump menegaskan kepada New York Times bahwa apabila Iran gagal mencapai kesepakatan final terkait program nuklirnya, Washington siap melanjutkan serangan militer terhadap Teheran atau mengambil peran lebih besar dalam pengamanan kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ). Yen Jepang bergerak di kisaran 160 per dolar AS, level yang selama ini dipandang sebagai batas psikologis yang berpotensi memicu intervensi pemerintah Jepang.

BoJ diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 Juni 2026, sehingga membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam 31 tahun.

Baca Juga: 10 Pemain Afrika Termahal di Piala Dunia 2026: Yan Diomande Teratas

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tekanan inflasi yang dipicu gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi dalam beberapa bulan terakhir.

Jika terealisasi, kebijakan tersebut akan sejalan dengan sejumlah bank sentral utama dunia yang mulai mengadopsi kebijakan moneter lebih ketat, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) yang pekan lalu menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun.