KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (19/8/2026), seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang turun dari level tertinggi baru-baru ini. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke risalah pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga. Tekanan terhadap dolar AS terjadi setelah aksi jual di pasar obligasi global pada Selasa (18/8/2026) mendorong perhatian investor terhadap prospek suku bunga dan inflasi. Ketegangan baru di Timur Tengah serta minimnya agenda rilis data ekonomi AS juga membuat risalah The Fed menjadi salah satu fokus utama pasar. Mengutip Reuters, euro menguat 0,19% menjadi US$1,1585 dan masih berada di dekat level tertinggi dalam dua bulan yang dicapai pada awal pekan ini.
Pound sterling juga naik 0,16% menjadi US$1,3554 setelah data menunjukkan inflasi Inggris pada Juli 2026 meningkat sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara itu, yen Jepang menguat menjadi 159,15 per dolar AS. Penguatan tersebut membawa yen menjauh dari level 160 per dolar AS yang menjadi perhatian pasar, setelah sebelumnya sebagian besar keuntungan yang diperoleh dari intervensi pasar valuta asing mulai terkikis.
Baca Juga: Bagi Cuan Ke Pemegang Saham, SK Hynix Menyiapkan Program Buyback Saham "Jepang sedang menghadapi masalah struktural. Namun, saya pikir bank-bank sentral memiliki insentif kuat untuk menjaga yen tetap stabil," kata Tom Samuelson, Chief Investment Officer Vineyard Global Advisors. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,21% menjadi 99,43.
Imbal hasil US Treasury mulai turun
Aksi jual di pasar US Treasury tampaknya mulai mereda. Imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun turun menjadi 4,686%. Sementara itu, imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun turun menjadi 5,271% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam hampir 20 tahun. Pergerakan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Kenaikan imbal hasil biasanya meningkatkan daya tarik dolar, sedangkan penurunan imbal hasil dapat mengurangi keunggulan imbal hasil aset AS dibandingkan mata uang negara lain. Risalah pertemuan terbaru The Fed dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 14.00 waktu Amerika Serikat bagian Timur atau pukul 18.00 GMT (Kamis 01:00 WIB). Investor akan mencermati pandangan para pejabat bank sentral AS mengenai kondisi pasar tenaga kerja, inflasi serta kemungkinan arah kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Samsung Naikkan Harga Jasa Chip hingga 15% di Tengah Lonjakan Permintaan AI Prospek suku bunga The Fed jadi perhatian
Sejumlah data ekonomi AS yang dirilis dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi. Data tersebut antara lain penurunan lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli serta data inflasi yang relatif moderat. Perkembangan tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga. "Jika The Fed tidak melanjutkan kenaikan suku bunga yang saat ini diperhitungkan pasar, ruang kenaikan imbal hasil obligasi akan sangat terbatas pada level ini," kata Harvinder Kalirai, Chief Global Fixed Income and Currency Strategist di Alpine Macro, dalam siaran kepada klien. Kalirai menilai pelemahan kejutan pada pasar tenaga kerja dan inflasi dapat mengurangi keunggulan imbal hasil dolar AS. "Pasar tenaga kerja dan kejutan inflasi mulai mereda dan biasanya hal itu bertepatan dengan menyempitnya keunggulan imbal hasil dolar, yang kemudian berdampak pada pelemahan dolar," ujarnya. Jika risalah The Fed memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut.
Ketegangan Timur Tengah menjaga risiko inflasi
Di sisi lain, kebuntuan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam hampir tiga pekan. Kondisi tersebut membuat risiko inflasi tetap menjadi perhatian investor. Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8/2026) mengatakan tidak ada pembicaraan dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz tetap terbuka. Namun, Iran menyatakan bahwa jalur tersebut masih tertutup bagi pelayaran.
Baca Juga: Chery Bangun Pusat Riset dan Pengembangan di Inggris Tahun Ini Perbedaan pernyataan mengenai kondisi Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak global. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Dolar Kanada ikut menguat
Di pasar valuta asing lainnya, dolar Kanada sedikit menguat menjadi 1,3872 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi setelah Trump menunda penerapan tarif 50% terhadap barang-barang Kanada selama tiga hari. Trump mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan. Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian investor karena kebijakan tarif AS terhadap mitra dagang utama berpotensi memengaruhi prospek perdagangan, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi global. Dengan demikian, pasar valuta asing saat ini menghadapi sejumlah faktor yang saling berlawanan. Di satu sisi, tanda-tanda perlambatan ekonomi AS dapat menekan dolar. Namun di sisi lain, risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik masih dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Investor selanjutnya akan mencermati isi risalah pertemuan The Fed untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap pergerakan dolar, imbal hasil US Treasury, serta pasar keuangan global.