Dolar AS Melemah Senin (25/5), Harapan Pembukaan Selat Hormuz Dorong Sentimen Risiko



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (25/5/2026), seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat konflik Iran dan AS-Israel.

Pelemahan dolar terjadi setelah harga minyak dunia turun di bawah level US$ 100 per barel, memicu kembali minat investor terhadap aset berisiko (risk appetite).

Baca Juga: Ukraina Menyerang Stasiun Pemompaan Minyak di Vladimir, Rusia


Mengutip Reuters, dolar AS terhadap yen Jepang turun 0,2% ke level 158,87 yen. Sementara euro menguat 0,3% menjadi US$ 1,1642 dan poundsterling Inggris naik 0,4% ke posisi US$ 1,3485.

Mata uang berbasis komoditas juga ikut menguat. Dolar Australia naik 0,4% ke level US$ 0,7160, sedangkan dolar Selandia Baru (kiwi) menguat 0,5% menjadi US$ 0,5877.

Analis Westpac dalam risetnya menyebut pelemahan dolar AS mencerminkan mulai pulihnya sentimen risiko global.

“Ada tanda-tanda awal bahwa sentimen pasar tetap didukung, terlihat dari aksi jual dolar AS secara luas pada awal perdagangan Sydney, sementara mata uang berisiko seperti dolar Australia mendapat keuntungan,” tulis Westpac.

Baca Juga: Harga Minyak Turun ke Level Terendah 2 Pekan, Ada Ekspektasi Perdamaian Damai AS-Iran

Selama akhir pekan, harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman (memorandum of understanding) terkait perdamaian “sebagian besar telah dinegosiasikan”.

Namun demikian, Trump pada Minggu (24/5) menegaskan blokade AS terhadap kapal Iran di Selat Hormuz masih tetap berlaku hingga kesepakatan benar-benar disepakati dan ditandatangani.

Pasar minyak langsung merespons perkembangan tersebut. Harga minyak Brent turun 5,1% menjadi US$ 98,29 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 5% ke level US$ 91,76 per barel.

Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati terhadap prospek kesepakatan tersebut.

Baca Juga: WHO Ungkap Ada 900 Kasus Dugaan Ebola di Afrika, 10 Negara Kini Berisiko Tinggi

Head of Research Pepperstone Group Ltd Chris Weston mengatakan, pasar mulai lebih yakin kesepakatan damai dapat tercapai, meskipun waktunya masih belum jelas.

“Pasar kini cenderung lebih sabar menunggu terobosan nyata, tetapi skenario dasar tercapainya kesepakatan masih cukup kuat,” ujarnya.

Di pasar aset digital, Bitcoin naik 0,6% ke level US$ 77.043,60, sedangkan Ether menguat 0,4% menjadi US$ 2.099,77.