Dolar AS Melemah Senin (26/10), Pasar Menanti Keputusan Lima Bank Sentral Pekan Ini



KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang utama dunia cenderung terbatas pada perdagangan Senin (26/10/2026), menjelang pekan yang padat dengan keputusan kebijakan bank sentral dan laporan kinerja perusahaan.

Pelemahan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) turut menekan dolar AS.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent terkoreksi lebih dari 1% ke kisaran US$ 115 per barel setelah mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada pekan lalu.


Baca Juga: Arab Saudi Gandeng Singapura untuk Penyimpanan Minyak Mentah Mulai Semester II-2027

Koreksi terjadi setelah muncul laporan bahwa mediator Qatar berada di Teheran pada Minggu untuk mengupayakan penurunan ketegangan regional melalui koordinasi dengan AS.

Di pasar obligasi, US Treasury masih mempertahankan sebagian besar penguatan yang terjadi dalam reli aset aman sebelumnya.

Kekhawatiran inflasi akibat tingginya harga minyak masih membayangi pasar, sementara aksi jual saham teknologi yang dipicu kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,974%, sedangkan tenor 30 tahun berada di 5,299%. Keduanya bertahan di sekitar level terendah dalam satu bulan.

Kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attrill, menilai pergerakan pasar obligasi AS kini menjadi faktor penting yang menentukan arah dolar.

Menurut dia, penurunan imbal hasil US Treasury dan menyempitnya selisih imbal hasil antara obligasi AS dan negara-negara utama kelompok G10 telah mengurangi daya tarik dolar AS.

Di pasar valuta asing, euro menguat 0,16% terhadap dolar AS menjadi US$ 1,122. Penguatan euro turut ditopang kelegaan pasar setelah Prancis terhindar dari penurunan peringkat kredit oleh Moody's meskipun menghadapi gejolak sosial.

Pound sterling juga naik 0,1% menjadi US$ 1,3385. Sebaliknya, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama melemah tipis ke 101,64.

Dolar Australia turun 0,04% menjadi US$ 0,7030, sementara dolar Selandia Baru menguat 0,06% menjadi US$ 0,572. Yen Jepang relatif stabil di level 156,920 per dolar AS.

Baca Juga: Nikkei Jepang Melemah Tiga Sesi Beruntun Senin (26/10), Saham Teknologi Tertekan

Keputusan Lima Bank Sentral Jadi Sorotan

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada keputusan lima bank sentral utama dunia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan.

Sementara itu, pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Canada dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

Kepala riset Pepperstone Chris Weston menilai, arahan kebijakan atau forward guidance dari bank sentral berpotensi lebih menentukan pergerakan pasar dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri.

Menurut dia, keputusan bank sentral sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar. Karena itu, investor akan mencermati sinyal mengenai kebijakan pada pertemuan berikutnya dan kemungkinan perubahan ekspektasi suku bunga jangka pendek.

Dari AS, sejumlah data ekonomi juga akan menjadi perhatian, termasuk indeks kepercayaan konsumen Oktober, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), dan klaim pengangguran. Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan The Fed.

Di pasar komoditas, harga emas spot turun tipis menjadi US$ 3.986,16 per ons troi. Sementara itu, di pasar kripto, Bitcoin melemah 0,6% menjadi US$ 79.925,84 dan Ether turun 1,1% ke US$ 2.317,33.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah Tiga Bulan Senin (26/10) Jelang Rapat The Fed