KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada Senin (9/3/2026), melonjak ke level tertinggi tiga bulan terhadap euro setelah harga minyak melonjak melewati US$ 100 per barel. Saham juga merosot dan investor mencari aset aman karena perang berkepanjangan di Timur Tengah mengancam akan mengganggu pasokan energi global. Senin (9/3/2026), dolar AS naik 0,8% menjadi US$ 1,1525 terhadap euro, level tertinggi sejak November 2025. Dolar AS juga naik hampir 0,4% menjadi 158,48 terhadap yen Jepang di awal sesi Asia. Poundsterling dan dolar Australia serta Selandia Baru turun lebih dari 0,6% terhadap dolar AS.
Sebagai informasi, harga minyak mentah Brent melonjak hingga lebih dari US$ 108 per barel, yang cukup mahal untuk berdampak pada pertumbuhan global. "Minyak tetap menjadi saluran transmisi ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang, dengan kebangkitan dolar AS yang menggemakan krisis energi tahun 2022," kata Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY seperti dilansir
Reuters.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sudah Tembus US$ 100 Per Barel! Ia bilang, minggu depan harga minyak akan menguji apakah pasar terus memperlakukan konflik saat ini sebagai guncangan yang terkendali atau mulai memperhitungkan gangguan pasokan yang lebih berkelanjutan. Dolar AS, yang mencatatkan kenaikan mingguan paling tajam dalam 15 bulan terakhir setelah pecahnya perang pekan lalu, telah menjadi aset safe haven paling efektif bagi investor karena emas melemah di tengah aksi jual besar-besaran pada aset apa pun yang baru-baru ini mengalami kenaikan tajam. "Dolar AS diuntungkan dari status gandanya sebagai safe haven dan pengekspor energi," kata Joe Capurso, Kepala Valuta Asing, Internasional dan Geoekonomi di Commonwealth Bank di Sydney. "Kami memperkirakan perang Iran-AS akan meningkat sebelum mereda. Iran termotivasi untuk membalas guna mendapatkan pengaruh dalam negosiasi di masa depan untuk mengakhiri perang. AS dan Israel termotivasi untuk menurunkan kemampuan ofensif Iran,"imbuhnya Dolar Australia turun 0,7% menjadi $0,6983 dan dolar Selandia Baru turun 0,6% menjadi $0,5860. Sterling merosot hampir 0,8% menjadi $1,3324, sementara dolar bahkan menguat 0,5% terhadap sesama aset aman, franc Swiss. Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah pertempuran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Konflik tersebut telah menyebabkan penghentian sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global, karena Teheran menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz yang vital antara pantai Iran dan Oman, dan menyerang infrastruktur energi di seluruh wilayah tersebut.
Baca Juga: Iran Pilih Jalur Konfrontasi Dibanding Kompromi Melawan AS, Ini Buktinya Menteri energi Qatar mengatakan kepada Financial Times pada hari Jumat bahwa ia memperkirakan semua produsen energi Teluk akan menghentikan ekspor dalam beberapa minggu, sebuah langkah yang menurutnya dapat mendorong harga minyak hingga US$ 150 per barel. Harga energi yang tinggi bertindak seperti pajak dan juga dapat memicu inflasi, membuat investor khawatir bahwa bank sentral mungkin enggan untuk memangkas suku bunga.