KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur penguatan mingguan pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Penguatan tersebut didorong lonjakan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut. Jika bertahan, dolar akan mencatat kenaikan mingguan dua pekan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan.
Mengutip
Reuters, indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama telah menguat lebih dari 1% sepanjang pekan dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Namun, pada perdagangan terakhir indeks dolar sedikit melemah ke level 101,2.
Baca Juga: Arab Saudi Dapat Dukungan Turki-Pakistan, Serangan Houthi Ganggu Arus Minyak Kenaikan dolar turut menekan mata uang utama lainnya. Euro turun ke level terendah dua bulan di US$1,1370 dan berada di jalur penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Sterling juga bertahan di sekitar level terendah tiga bulan US$1,3220 dan menuju kinerja mingguan terburuk dalam empat bulan. Pergerakan dolar mendapatkan dukungan dari perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS setelah The Fed memperketat kebijakan moneter pada pekan lalu. Data ekonomi AS yang masih kuat serta kekhawatiran baru mengenai pasokan energi turut memperkuat ekspektasi tersebut. Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan inflasi sehingga memperbesar ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Di pasar obligasi, aksi jual US Treasury mendorong yield surat utang AS tenor panjang ke level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun. Kenaikan yield tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus menopang nilai tukar greenback. "Meski dolar seharusnya mendapatkan dukungan dari yield yang lebih tinggi, masih terdapat kekhawatiran mengenai posisi fiskal AS dan ketidakpastian pembuatan kebijakan AS," kata Khoon Goh, head of Asia research di ANZ. Menurut dia, faktor tersebut membuat penguatan dolar kesulitan berlanjut meskipun yield US Treasury terus meningkat.
Baca Juga: Asian Games 2026 Jepang Banjir Kritik, Terancam Jadi yang Terburuk dalam Sejarah Ekspektasi kenaikan bunga The Fed menguat Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat setelah sejumlah pejabat bank sentral AS menyampaikan pandangan hawkish. Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia Anna Paulson mengatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam jumlah moderat mungkin diperlukan. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyebut kenaikan suku bunga tambahan dapat diperlukan sebelum akhir tahun. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa siklus pengetatan kebijakan moneter AS belum sepenuhnya berakhir. Kenaikan harga minyak lebih dari 3% pada Kamis setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi juga menambah perhatian terhadap risiko inflasi. Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya energi dan kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.
Baca Juga: Wakil PM Singapura: Dunia Tak Bisa Hadapi Geopolitik dengan Menutup Ekonomi Yen tertekan Di pasar Asia, yen Jepang masih berada di sekitar level terendah tiga pekan, yakni 158,8 per dolar AS. Pasar menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada pekan lalu serta panduan kebijakannya belum cukup hawkish untuk menopang yen. Namun, pergerakan yen relatif terbatas karena investor masih mempertimbangkan risiko intervensi pemerintah Jepang. Tokyo kembali mengeluarkan peringatan verbal terkait pelemahan mata uang tersebut. Goldman Sachs bahkan menurunkan proyeksi USD/JPY 12 bulan menjadi 150 dari sebelumnya 165. Bank tersebut menilai kenaikan suku bunga yang lebih cepat dapat mengurangi dampak inflasi dari kebijakan fiskal ekspansif dan menurunkan tekanan terhadap yen. Sementara itu, dolar Australia naik tipis ke US$0,7015. Dolar Selandia Baru bergerak datar di US$0,5663.
Baca Juga: New York Gugat Polymarket, Legalitas Pasar Prediksi Jadi Sengketa Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,60% pada pekan depan. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan membawa suku bunga Australia ke level tertinggi dalam hampir 15 tahun dan diperkirakan menjadi kenaikan terakhir dalam siklus pengetatan. Di China, yuan offshore bergerak datar di level 6,715 per dolar AS. Investor mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington yang belum menghasilkan terobosan terkait sejumlah isu utama, termasuk perdagangan dan teknologi AI.