Dolar AS Menguat 2,5% terhadap Euro pada September, Terkuat 14 Bulan



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi tahun ini terhadap euro pada perdagangan Rabu (30/9/2026).

Dolar AS berada di jalur untuk mencatat penguatan bulanan terbesar terhadap euro dalam 14 bulan terakhir.

Penguatan dolar AS didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi AS dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.


Sebaliknya, euro tertekan oleh kekhawatiran terhadap pasokan energi, kondisi fiskal, serta ketidakpastian politik di Eropa.

Baca Juga: Bursa Australia Naik Tipis Rabu (30/9), Menanti Data Inflasi dan Arah Suku Bunga

Melansir Reuters, Euro sempat turun ke US$ 1,1312, level terendah sejak Mei 2025, sebelum bergerak di sekitar US$ 1,1339 dalam perdagangan Asia. Sepanjang September, dolar AS telah menguat hampir 2,5% terhadap euro.

"Ekonomi AS berjalan kuat, Eropa tertinggal dalam perlombaan AI global, sementara pasokan energi dan politik Prancis masih menjadi kekhawatiran besar bagi euro," kata Brent Donnelly, Presiden Foreign Exchange Trading di perusahaan analitik Spectra Markets.

Kekhawatiran terhadap energi kembali meningkat setelah harga gas acuan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak 2022 pada awal September.

Sementara itu, pasar Prancis menghadapi tekanan akibat persoalan utang dan kebuntuan politik menjelang pemilihan presiden tahun depan. Selisih imbal hasil obligasi Prancis dan Jerman juga melebar hingga lebih dari 115 basis poin, level terlebar sejak 2012.

Pergerakan di pasar opsi turut menunjukkan meningkatnya permintaan perlindungan terhadap potensi pelemahan euro lebih lanjut.

Namun, Donnelly menilai dolar AS kemungkinan membutuhkan data ekonomi AS yang kuat untuk melanjutkan penguatannya.

Baca Juga: AS Tarik Pasukan dari Irak, Pengaruh Iran dan Ancaman Islamic State Menguat

Dolar AS juga menguat terhadap franc Swiss

Dolar AS juga mencapai level tertinggi dalam 16,5 bulan terhadap franc Swiss, yakni 0,8358 franc.

Franc Swiss tertekan antara lain karena investor mencari mata uang berimbal hasil rendah selain yen untuk digunakan dalam strategi carry trade.

Sementara itu, yen Jepang kehilangan daya tarik sebagai target posisi jual terhadap dolar AS setelah intervensi pembelian yen oleh AS dan Jepang pada Juli dan Agustus, disertai peringatan agar pelaku pasar tidak menguji komitmen kedua negara.

Peningkatan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Jepang juga turut mendukung yen. Sepanjang September, dolar AS telah melemah sekitar 1,5% terhadap yen.

Baca Juga: Korea Utara Ancam Balas Korea Selatan Usai Ledakan Ranjau di DMZ

Data AS jadi perhatian

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data ekonomi AS. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti atau core PCE, yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed), dijadwalkan dirilis pada Rabu.

Namun, pasar lebih menantikan laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat. Data tenaga kerja yang kuat berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan kembali naik.

Ekspektasi tersebut sempat berkurang setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru menaikkan suku bunga.

Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun turun sekitar 3,5 basis poin. Sementara itu, kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada bulan depan turun menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya 71%.

Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa, Siap Balas Jika Perdagangan Dibatasi

Dari Australia, data inflasi yang dirilis Rabu juga menjadi perhatian pasar valuta asing.

Data tersebut berpotensi memberikan dukungan bagi dolar Australia yang sebelumnya tertekan setelah Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock mengatakan dewan sempat mempertimbangkan untuk mempertahankan suku bunga sebelum akhirnya menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Selasa.

"Risikonya adalah kenaikan suku bunga RBA berikutnya, mungkin secepatnya pada pertemuan kebijakan November. Namun, kenaikan berikutnya sudah diperhitungkan oleh pasar," kata Joe Capurso, Head of Foreign Exchange Commonwealth Bank of Australia.

Dolar Australia berada di sekitar US$ 0,6986 pada awal perdagangan Asia, sementara dolar Selandia Baru bertahan di sekitar US$ 0,5638 setelah menyentuh level terendah sejak November tahun lalu.

Pound sterling juga berada di dekat level terendah tiga bulan, yakni sekitar US$ 1,3227. Sementara itu, yuan China berada di jalur untuk mencatat penguatan kuartalan ketujuh berturut-turut terhadap dolar AS menjelang libur nasional China pada 1-7 Oktober.

Baca Juga: Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan