Dolar AS Menguat, CNY dan KRW Jadi Pilihan Valas Asia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap mata uang Asia diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek di tengah tingginya yield US Treasury (UST) dan dolar AS. 

Mengutip Trading Economics pada Kamis (8/10/2026) pukul 16.30 WIB, USD/JPY berada di level 158,196, naik 0,08% dalam sepekan dan 3,04% dalam sebulan. Sementara USD/CNY berada di 6,70327, turun 0,16% secara mingguan dan 0,05% secara bulanan.

USD/SGD tercatat 1,28162, naik 0,09% dalam sepekan dan 1,39% dalam sebulan. Adapun USD/IDR berada di level 17.924, turun 0,26% dalam sepekan, tetapi masih naik 2,47% dalam sebulan. 


Baca Juga: Ekspansi Tambang Australia Terganjal, Harga Batubara Berpeluang Tembus US$ 180

Artinya, CNY masih melanjutkan tren penguatan, sedangkan JPY, IDR, dan SGD masih melemah terhadap dolar AS. Pun, indeks dolar AS masih di level tinggi, yakni 102,4.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, tingginya yield obligasi AS US Treasury dan arah suku bunga The Fed membuat sejumlah mata uang Asia masih rentan mengalami tekanan. 

"Meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sudah menurun, yield jangka panjang AS masih tinggi sehingga daya tarik dolar tetap kuat," terang Lukman kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Lihat saja, yield UST 10 tahun saat ini ada di level 5,34%. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang Asia dalam jangka pendek.

Di antara mata uang Asia, Lukman melihat yuan China (CNY) masih relatif kuat. Pergerakan yuan didukung oleh kebijakan China serta stabilitas arus perdagangan.

Won Korea Selatan (KRW) juga dianggap memiliki prospek yang cukup baik. Lukman menyebut dukungan sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor menjadi salah satu faktor yang menopang KRW. Meski demikian, KRW tetap sensitif terhadap sentimen risk-off di pasar global.

Sebaliknya, yen Jepang (JPY) dan rupiah (IDR) masih tergolong rentan. Yen terbebani oleh tingginya yield AS dan ketidakpastian kebijakan Jepang. Sementara itu, rupiah masih menghadapi tekanan dari sejumlah faktor eksternal, terutama yield AS, harga minyak, serta arus modal asing.

Adapun dolar Singapura (SGD) dinilai relatif lebih defensif dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya. Karakter safe haven regional dan fundamental eksternal Singapura menjadi faktor pendukung SGD.

Baca Juga: Segar Kumala (BUAH) Berencana Bagikan Dividen Interim Rp 20 Miliar, Ini Jadwalnya

Di tengah tingginya daya tarik aset berbasis dolar AS, Lukman mengamini memang terdapat rebalancing dari aset Asia menuju aset dolar AS. Perpindahan tersebut terutama terjadi ketika yield Treasury berada pada level tinggi.

Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadi alasan bagi investor untuk keluar dari seluruh aset Asia.

“Lebih baik akumulasi secara selektif dan bertahap pada mata uang yang memiliki fundamental lebih kuat,” kata Lukman.

Dalam kondisi saat ini, CNY dan KRW menjadi mata uang yang menarik untuk dicermati. Sementara untuk rupiah, Lukman melihat peluang akumulasi dapat muncul apabila tekanan eksternal mulai mereda.

Hingga akhir tahun, arah yield UST dan indeks dolar AS (DXY) masih menjadi dua indikator utama yang perlu diperhatikan investor untuk membaca arah mata uang Asia ke depan.

Dari sisi proyeksi, Lukman memperkirakan sejumlah mata uang Asia masih akan bergerak dalam rentang berikut hingga akhir 2026. Untuk USD/JPY, ia memproyeksikan berada di kisaran 155-160. Artinya, yen masih berpotensi berada di bawah tekanan terhadap dolar AS hingga akhir tahun.

Baca Juga: Harga Nikel Tergerus, Analis Ungkap Prospek dan Saham Pilihan

Sementara itu, USD/CNY diperkirakan berada di kisaran 6,65-,75, sedangkan USD/KRW berada pada kisaran 1.300–1.375.

Adapun untuk rupiah, Lukman memperkirakan USD/IDR berada di kisaran Rp 17.700-Rp 18.200 hingga akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News