Dolar AS Menguat Dekati Level Tertinggi 2 Pekan, Yen Kembali Tembus 160



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin (31/8/2026).

Penguatan dolar didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Di sisi lain, yen Jepang kembali melemah melewati level psikologis 160 yen per dolar AS, sehingga meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang.


Baca Juga: Nikkei Anjlok 2,1% Senin (31/8), Bursa Asia Tertekan Konflik dan Yield Tinggi

Warsh pada Jumat mengatakan bank sentral AS masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila para pembuat kebijakan belum mendapatkan keyakinan bahwa inflasi akan kembali menuju target 2%.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal terkuat Warsh sejauh ini bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin diperlukan untuk meredam tekanan inflasi.

Pasar kemudian meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi 57%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga juga naik ke level tertinggi lebih dari satu bulan, yakni 4,33%.

Ahli strategi valuta asing OCBC Sim Moh Siong mengatakan pernyataan Warsh mengenai target inflasi telah mengurangi salah satu tekanan utama terhadap dolar AS dan mengembalikan perhatian investor pada fundamental ekonomi.

“Pembelaan Warsh terhadap target inflasi telah mengurangi hambatan utama terhadap dolar AS dan menggeser fokus kembali pada fundamental ekonomi,” ujar Sim.

Menurutnya, pernyataan tersebut turut membantu memulihkan kredibilitas The Fed sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang AS.

Baca Juga: Emas Stabil di US$ 4.455 Senin (31/8), Pasar Waspadai Kenaikan Suku Bunga

Investor Tunggu Data Ekonomi AS

Investor kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan terbit Jumat menjadi salah satu data utama yang akan dicermati pasar.

Data inflasi konsumen AS pada pekan berikutnya juga akan menjadi perhatian menjelang pertemuan The Fed September.

Baca Juga: AS Serang Dua Peluncur Rudal Iran di Pulau Larak, Konflik Kembali Memanas

Kedua data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama sedikit turun menjadi 99,6.

Namun, indeks tersebut masih berada dekat level tertinggi sejak 17 Agustus setelah sebelumnya melonjak 0,6% pada Jumat.

Meski menguat dalam beberapa sesi terakhir, indeks dolar masih berada di jalur penurunan bulanan untuk bulan kedua berturut-turut.

Sementara itu, euro menguat tipis 0,1% menjadi US$ 1,1591. Poundsterling bergerak stabil di sekitar US$ 1,3539.

Kedua mata uang tersebut masih berada di jalur mencatatkan kenaikan bulanan untuk bulan kedua berturut-turut.

Permintaan terhadap dolar juga mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak. Harga Brent melonjak hampir 2% setelah pasukan AS menyerang Pulau Larak, Iran, pada Minggu.

Serangan tersebut menjadi aksi militer AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli.

Baca Juga: Korban Banjir & Longsor Di Nepal Teridentifikasi, Adakah WNI Jadi Korban?

Yen Kembali Jadi Perhatian

Pergerakan yen menjadi salah satu perhatian utama pasar setelah mata uang Jepang kembali melemah melewati level 160 per dolar AS.

Yen berada di sekitar 160,01 per dolar AS, setelah sebelumnya menembus level tersebut pada Jumat.

Level 160 yen per dolar AS secara luas dipandang sebagai titik yang meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.

Fokus investor juga tertuju pada pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 yang berlangsung di Amerika Serikat pada Senin dan Selasa.

Pasar akan mencermati kemungkinan adanya upaya terkoordinasi untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran, serta langkah untuk meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan utang AS dan imbal hasil obligasi.

Baca Juga: Korban Bencana Himalaya Hampir 800 Jiwa, 3.000 Orang Masih Hilang

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pergerakan yen belakangan ini masih cukup terkendali. Ia juga berharap Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda mengambil kebijakan moneter yang tepat.

Ekonom senior Asia UBP Carlos Casanova mengatakan, intervensi valuta asing secara historis hanya efektif apabila fundamental ekonomi bergerak ke arah yang sama.

“Yen masih berada di bawah tekanan akibat kesenjangan suku bunga yang masih lebar, suku bunga riil negatif, serta laju kebijakan Bank of Japan yang hati-hati,” kata Casanova.

Di pasar valuta asing lainnya, dolar Selandia Baru bergerak stabil di US$ 0,5916. Sementara itu, dolar Australia menguat tipis 0,1% menjadi US$ 0,7163.