KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat dari posisi terendah dalam tiga pekan terhadap euro dan franc Swiss pada Rabu (waktu setempat), seiring pelaku pasar menantikan pidato Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos. Penguatan dolar terjadi setelah pernyataan ancaman tarif dari Trump memicu aksi jual luas terhadap aset-aset AS. Sebelumnya, pasar global kembali diliputi kekhawatiran setelah AS pada Senin memperbarui ancaman tarif terhadap sekutu Eropa terkait isu Greenland. Langkah tersebut menghidupkan kembali sentimen “Sell America” yang sempat muncul pasca pengumuman tarif AS pada April tahun lalu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa agenda utama kepemimpinan Amerika Serikat dalam Presidensi G20 adalah mendorong pertumbuhan ekonomi global. Ia juga meminta mitra Eropa untuk menahan diri hingga Presiden Trump menyampaikan pandangannya secara langsung di Davos.
Baca Juga: Dolar AS Melemah: Ancaman Terhadap Greenland Picu Aksi Jual Aset AS Di pasar valuta asing, euro sebelumnya mencatatkan kenaikan lebih dari 1% dalam dua sesi terakhir, sebelum terkoreksi 0,15% ke level US$1,1710 pada Rabu. Mata uang tunggal Eropa itu sempat menyentuh US$1,1770 pada Selasa, tertinggi sejak 30 Desember. Sementara itu, franc Swiss yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) melemah 0,30% ke posisi 0,7922 per dolar AS, setelah menguat sekitar 1,5% pada periode Senin hingga Selasa. Analis Global Valuta Asing dan Suku Bunga Macquarie Group, Thierry Wizman, menilai perkembangan isu Greenland menjadi faktor kunci yang terus membebani sentimen pasar. Menurutnya, pertemuan di Davos berpotensi menjadi ajang pencarian titik temu, termasuk kemungkinan pengelolaan bersama Greenland di bawah NATO. “Selama belum ada kejelasan, dominasi Amerika Serikat berisiko terus terkikis, bersamaan dengan perubahan besar dalam tatanan geopolitik yang selama ini menopang stabilitas pasar,” ujar Wizman. Ia juga mengingatkan bahwa Uni Eropa berpeluang mengambil langkah perdagangan yang signifikan sebagai respons. Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya mendorong Uni Eropa untuk mempertimbangkan penggunaan instrumen perdagangan terkuatnya, yang secara informal dijuluki “trade bazooka”. Kebijakan ini memungkinkan pembatasan akses AS ke tender publik Eropa atau pembatasan perdagangan jasa, termasuk platform teknologi. Macron menyebut eskalasi ketegangan tersebut sebagai situasi yang “tidak masuk akal”.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Terendah Sepekan, Geopolitik Picu Kembali Aksi Sell America Tekanan terhadap aset AS juga diperkuat oleh keputusan dana pensiun Denmark, AkademikerPension, yang mengumumkan rencana penjualan kepemilikan obligasi pemerintah AS senilai sekitar US$100 juta hingga akhir bulan ini. Langkah tersebut memicu spekulasi akan adanya aksi jual lanjutan oleh investor asing.
Yen Jepang Tertekan, Imbal Hasil Obligasi Melonjak
Selain euro dan franc Swiss, yen Jepang juga berada di bawah tekanan. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) ke level tertinggi sepanjang sejarah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelonggaran fiskal yang agresif. Kekhawatiran tersebut muncul setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyerukan pemilihan umum dadakan pada 8 Februari mendatang dan berjanji memperluas kebijakan fiskal. Imbal hasil obligasi JGB tenor 40 tahun melonjak 27,5 basis poin menjadi rekor 4,215% pada Selasa, sebelum sedikit mereda ke sekitar 4,1% pada Rabu. Nilai tukar yen mencatatkan rekor terendah terhadap franc Swiss di level 200,19 pada Selasa, dan masih bertahan dekat level tersebut pada Rabu di kisaran 199,21. Terhadap euro, yen melemah ke 184,90, mendekati rekor terendah 185,575 yang tercatat sepekan sebelumnya. Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya pada Jumat. Namun, setelah menaikkan suku bunga pada pertemuan Januari lalu, pasar memperkirakan tidak akan ada perubahan kebijakan. Meski demikian, analis Mizuho Securities menilai komunikasi BOJ kemungkinan tetap bernada hawkish.
Baca Juga: Dolar AS Terancam! BRICS Siapkan Skema Pembayaran Baru Yuan China Melemah Tipis
Di kawasan Asia, yuan China melemah 0,1% ke level 6,9659 per dolar AS di pasar onshore, setelah sempat menguat ke 6,9570 pada Selasa, posisi terkuat sejak Mei 2023.
Bank Sentral China (PBOC) mengejutkan pasar dengan menetapkan nilai tengah yuan di 7,0014 per dolar, sedikit lebih lemah dibandingkan penetapan sebelumnya. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa otoritas moneter China berupaya menjaga stabilitas nilai tukar di sekitar level psikologis 7 yuan per dolar AS, di tengah tekanan eksternal dan dinamika global yang semakin kompleks.