KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada awal perdagangan Asia, Jumat (9/1/2026), seiring pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan AS terbaru serta putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan tarif Presiden Donald Trump. Melansir
Reuters, indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,2% ke level 98,883. Penguatan ini menandai kenaikan dolar selama tiga hari berturut-turut.
Baca Juga: AS Sita Kapal Tanker Rusia, Moskow Murka dan Peringatkan Eskalasi Konflik Pasar kini memusatkan perhatian pada laporan nonfarm payrolls AS untuk Desember yang dijadwalkan rilis hari ini. Data tersebut diharapkan dapat mengurai ketidakpastian data ekonomi yang muncul selama penutupan pemerintahan (
government shutdown). Namun, analis menilai hasil data tersebut belum tentu memberikan kejelasan arah kebijakan suku bunga ke depan. “Pasar kemungkinan masih cukup toleran terhadap angka payrolls yang relatif lemah. Kecuali terjadi kejutan besar, angka yang lebih menentukan justru tingkat pengangguran,” tulis analis ING dalam laporan risetnya. Data klaim pengangguran mingguan yang dirilis Kamis (8/1) menunjukkan kenaikan tipis jumlah pengajuan tunjangan pengangguran.
Baca Juga: xAI Elon Musk Rugi Rp 22,8 Triliun, Tapi Pendapatan Melesat Tajam Sejalan dengan itu, kontrak berjangka Fed Funds mencerminkan probabilitas sebesar 89% bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat 27–28 Januari mendatang. Angka ini meningkat dibandingkan peluang 68% sebulan sebelumnya, berdasarkan CME Group FedWatch Tool. Selain data ekonomi, pasar juga mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS yang dapat keluar dalam beberapa jam ke depan. Putusan tersebut akan menentukan apakah Presiden Trump dapat menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk memberlakukan tarif tanpa persetujuan Kongres. Jika ditolak, kebijakan perdagangan AS berpotensi terguncang dan negosiasi dagang selama berbulan-bulan bisa berantakan.
Baca Juga: Tren Mengejutkan: 93% Warga Malaysia yang Pindah Pilih Singapura Sejumlah eksekutif perusahaan, pialang kepabeanan, dan pengacara perdagangan juga bersiap menghadapi potensi sengketa pengembalian bea masuk hingga US$ 150 miliar yang telah dibayarkan, apabila kebijakan tarif tersebut dinyatakan tidak sah. Terhadap yen Jepang, dolar berada di level 156,885 yen, relatif stabil. Data menunjukkan belanja rumah tangga Jepang secara tak terduga tumbuh pada November dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan konsumsi menguat sebelum Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 30 tahun pada Desember lalu. Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bank sentral akan terus menaikkan biaya pinjaman jika perkembangan ekonomi dan inflasi sesuai dengan proyeksi. Sementara itu, terhadap yuan offshore yang diperdagangkan di Hong Kong, dolar bergerak datar di kisaran 6,982 yuan. Pasar menantikan rilis data inflasi China untuk Desember yang dijadwalkan keluar dalam beberapa jam ke depan.
Baca Juga: Pegawai Federal AS Turun Drastis, Terendah dalam Satu Dekade Terakhir Pergerakan mata uang utama lainnya cenderung terbatas pada awal perdagangan Asia. Euro stabil di level US$ 1,1657 menjelang rilis data perdagangan Jerman dan penjualan ritel zona euro. Pound sterling melemah tipis 0,1% ke US$ 1,3436.
Dolar Australia bergerak datar di US$ 0,6698, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,1% ke US$ 0,5749. Di pasar aset kripto, Bitcoin turun 0,2% ke level US$ 91.002,39, sementara Ether melemah 0,4% ke US$ 3.104,38.