KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam dua pekan pada Senin (14/9/2026), didorong lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang membuat investor beralih ke aset
safe haven. Penguatan dolar terutama menekan yen Jepang yang sebelumnya menguat cukup tajam. Sentimen negatif terhadap saham akibat kekhawatiran mengenai risiko kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Rabu turut menopang mata uang AS.
Baca Juga: Kabur dari China Gara-gara Tarif AS, Perusahaan Kini Mulai Kembali Melansir
Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik hampir 0,5% menjadi 99,59, level tertinggi sejak 2 September. Sementara itu, euro melemah lebih dari 0,5% ke US$ 1,153, level terendah dalam satu bulan. Poundsterling Inggris juga turun 0,4% menjadi US$ 1,348. Lonjakan harga minyak membuat investor kembali waspada dan mendorong imbal hasil obligasi global mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 3% menjadi US$ 108 per barel. Kekhawatiran pasokan energi meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan ke Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia. Serangan tersebut terjadi setelah Arab Saudi menutup pipa utamanya yang digunakan untuk menghindari jalur Selat Hormuz. Upaya diplomasi terkait perang antara AS dan Iran juga menunjukkan tanda-tanda memburuk. Pertemuan antara Teheran dan sejumlah pemerintah negara Teluk ditunda, sementara serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi. "Perkembangan di kawasan Teluk masih mengkhawatirkan, sementara sejumlah pemberitaan terkait AI semakin menekan pasar saham. Dalam kondisi seperti ini, dolar seharusnya tetap mendapat dukungan," kata Francesco Pesole, ahli strategi valuta asing ING.
Baca Juga: India Bisa Ekspor 1,64 Juta Ton Baja ke Uni Eropa, Tapi Terbebani Biaya Karbon Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Perhatian pasar pekan ini tertuju pada keputusan The Fed pada Rabu. Pelaku pasar meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap lonjakan harga energi. Kenaikan harga energi telah mendorong harga solar ke rekor tertinggi dan turut meningkatkan inflasi inti lebih besar dari perkiraan pada Agustus. Data CME Group melalui perangkat FedWatch menunjukkan pasar pada Senin memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sekitar 90%, naik dari sekitar 60% sepekan sebelumnya. "Penguatan dolar AS pada awal pekan ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memperketat kebijakan moneter," ujar Lee Hardman, analis mata uang senior MUFG. Namun, Hardman menilai The Fed kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif pada tahun pemilu. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan dolar AS lebih lanjut.
Baca Juga: Tesla Mendirikan Unit Bisnis di Vietnam, Bergerak di Penjualan Mobil Ekspektasi kenaikan suku bunga di berbagai negara juga telah mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade di AS, Eropa dan Jepang.
Namun, dampaknya terhadap pasar valuta asing sejauh ini relatif terbatas karena kenaikan imbal hasil terjadi secara bersamaan. Di Jepang, pasar hampir sepenuhnya memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada Jumat mendatang. Investor juga akan mencermati sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Sentimen terhadap yen mulai menunjukkan perubahan. Data posisi spekulan menunjukkan investor kini mengambil posisi
net long yen untuk pertama kalinya sejak Februari. Sementara itu, Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Kamis. Namun, trader kini memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini dan kembali meningkat pada 2027, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pada pekan lalu.