Dolar AS Menguat, Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Inflasi



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada awal perdagangan Asia, Senin (13/7/2026), setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global.

Sentimen tersebut muncul setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone sepanjang akhir pekan.

Teheran juga menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima pasokan minyak dunia.


Ketegangan geopolitik ini langsung mendorong harga minyak melonjak. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,3% menjadi US$ 78,49 per barel saat perdagangan Asia dibuka.

Kenaikan harga minyak memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi global akan kembali meningkat.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Serangan AS - Israel, Iran Tutup Selat Hormuz

Kondisi tersebut berpotensi memaksa bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.

"Penguatan dolar dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sementara lonjakan harga minyak menjadi faktor utamanya. Jika harga energi terus naik, pasar akan mulai memperkirakan kenaikan suku bunga terjadi lebih cepat," ujar analis pasar IG, Tony Sycamore.

Sejalan dengan itu, pelaku pasar kini semakin yakin The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga hingga dua kali sebelum akhir tahun.

Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang 52,1% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sedikitnya dua kali hingga pertemuan Desember. Angka tersebut meningkat dari 47,6% pada Jumat pekan lalu.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat 0,1% terhadap yen Jepang ke level 161,92 yen. Euro melemah 0,1% menjadi US$ 1,1403, sementara poundsterling turun 0,1% ke US$ 1,3383.

Mata uang berbasis komoditas juga ikut tertekan. Dolar Australia turun 0,1% menjadi US$ 0,6942, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,1% ke US$ 0,5757.

Baca Juga: Iran Resmi Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Terbaru AS

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bertahan di level 101,07, setelah sempat naik hingga 0,2% dan menyentuh posisi tertinggi sejak 8 Juli.

Fokus pasar pekan ini akan tertuju pada sejumlah data penting dari AS yang berpotensi menentukan arah kebijakan moneter The Fed.

Investor menantikan rilis data inflasi konsumen (CPI) pada Selasa, disusul inflasi produsen (PPI) sehari berikutnya, serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan DPR dan Senat AS.

Analis Westpac menilai risiko inflasi akan menjadi perhatian utama investor dalam beberapa hari ke depan, terutama di tengah lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.

Di Jepang, sumber Reuters menyebut Bank of Japan berpeluang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2026.

Baca Juga: AS Dituding Lakukan Pelanggaran Gencatan Senjata, Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Bank sentral Jepang juga diperkirakan tetap mewaspadai risiko inflasi yang lebih tinggi akibat pelemahan yen dan kuatnya permintaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), meski penurunan harga minyak sempat memberikan sedikit ruang.

Di pasar aset kripto, bitcoin turun 0,6% ke level US$ 63.770,42, sedangkan ether melemah 1,1% menjadi US$ 1.801,28.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News