KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) masih menarik di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) dan ekspektasi suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Triwira Tjandra mengatakan, penguatan dolar AS dapat menjadi katalis positif bagi investor Indonesia. Namun, kinerja reksadana USD tetap sangat bergantung pada aset dasar (underlying asset) yang menjadi portofolionya. “Untuk reksadana pasar uang dan pendapatan tetap USD, lingkungan suku bunga global yang masih tinggi justru mendukung tingkat imbal hasil yang relatif atraktif. Sementara untuk reksadana saham berbasis USD, volatilitas masih berpotensi tinggi karena valuasi aset berisiko sensitive terhadap arah kebijakan The Fed,” ujar Triwira kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Tekanan Rupiah Memicu Perburuan Aset Dolar, Ini Strategi yang Disarankan BRI-MI Saat ini suku bunga acuan The Fed dipertahankan pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Triwira menambahkan, jika The Fed menunda penurunan suku bunga atau bahkan kembali menaikkan suku bunga hingga tahun depan, dampaknya akan berbeda pada masing-masing jenis reksadana USD. Pada reksadana pasar uang USD, kata dia, kondisi tersebut cenderung memberikan dampak positif karena yield instrumen jangka pendek dapat bertahan pada level yang tinggi. Sebaliknya, reksadana pendapatan tetap USD berpotensi menghadapi tekanan harga dalam jangka pendek apabila yield obligasi kembali meningkat. Meski begitu, investor tetap memperoleh kompensasi berupa kupon yang lebih menarik. Adapun pada reksadana saham global berbasis USD, suku bunga tinggi berpotensi meningkatkan volatilitas dan menekan valuasi, terutama pada saham-saham yang memiliki ekspektasi pertumbuhan tinggi. “Oleh karena itu, investor perlu memahami bahwa investasi berbasis USD tidak hanya memiliki risiko nilai tukar, tetapi juga risiko pasar sesuai dengan karakter aset yang dimiliki,” imbuh Triwira.
Strategi Investasi
Dari sisi strategi investasi, Triwira bilang, momentum penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah masih dapat dimanfaatkan investor domestik untuk mulai membangun eksposur pada reksadana USD, khususnya bagi mereka yang memiliki tujuan diversifikasi aset atau kebutuhan dana dalam mata uang dolar AS di masa depan. Namun, ia mengingatkan agar investor tidak melakukan konversi dana secara agresif dalam satu waktu karena arah pergerakan kurs sangat sulit diprediksi. Kata Trwiira, strategi bertahap atau dollar-cost averaging menjadi pendekatan yang lebih bijak untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar. Pasalnya, reksadana USD dapat memberikan eksposur ke berbagai instrumen investasi seperti pasar uang, obligasi, hingga saham global yang menawarkan peluang pertumbuhan lebih besar.
Baca Juga: Obligasi Danantara Laris Manis, Persepsi Kedekatan ke Pemerintah Jadi Kunci Meski demikian, investor harus siap menghadapi fluktuasi nilai aktiva bersih (NAB) yang tidak ditemui pada simpanan dolar AS di perbankan. Karena itu, pemilihan instrumen investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi masing-masing investor. Untuk diketahui, sejumlah reksadana berbasis USD menghasilkan kinerja yang positif di tahun ini. Dilihat dari catatan Indovesta Utama per 8 Juni 2026, produk reksa dana Panin Global Sharia Equity Fund mencatat imbal hasil tertinggi dengan return mencapai 47,19% YTD. Di posisi berikutnya terdapat Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B yang membukukan return 38,19% YTD. Sementara itu, posisi ketiga ada Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A mencatat kinerja 36,80% YTD.
Ketiga produk di atas merupakan reksadana jenis global fund berbasis USD yang underlying asset-nya terpapar instrumen saham luar negeri. Beberapa produk reksadana USD dari Sinarmas Asset Management juga tercatat menghasilkan return positif. Salah satunya yakni produk reksadana pendapatan tetap Danarmas Dollar yang mencatat kinerja 1,75% YTD.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,4% ke Rp 17.917 per Dolar AS pada Jumat (12/6/2026) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News