KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026), didorong meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta kekhawatiran inflasi setelah kembali memanasnya konflik AS-Iran. Di sisi lain, yen Jepang kembali tertekan hingga menembus level psikologis 160 per dolar AS, meski tekanan terhadap Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga semakin kuat.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Konflik AS-Iran Kembali Ancam Pasokan Global Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah kedua negara kembali terlibat dalam pertukaran serangan langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$91 per barel. Kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan memicu aksi jual di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3%, untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Baca Juga: Swiss Life Pangkas 600 Pekerjaan Yen Kembali Tembus 160 Tekanan terbesar terlihat pada yen. Mata uang Jepang diperdagangkan di sekitar 159,99 yen per dolar AS setelah kembali menembus level 160 untuk sesi ketiga berturut-turut. Level tersebut menjadi perhatian pasar karena pelemahan yen yang semakin dalam dapat meningkatkan risiko intervensi oleh otoritas Jepang. Tekanan terhadap yen terjadi meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dirinya meyakini pemerintah Jepang dan BOJ akan mengambil langkah yang dapat mendorong penguatan yen.
Baca Juga: Perusahaan AS Ambil Alih Ladang Minyak Venezuela dari China dan Rusia BOJ sendiri telah secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga pada September. Namun, komentar Bessent dinilai semakin meningkatkan tekanan terhadap bank sentral Jepang untuk mengambil langkah yang lebih agresif ke depan. "Investor masih fokus pada perbedaan suku bunga Jepang dan AS yang belum menguntungkan Jepang serta keraguan mengenai seberapa agresif Bank of Japan akan memperketat kebijakan," kata Joel Kruger, market strategist LMAX Group. Menurut Kruger, tekanan verbal saja belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan yen. Yen masih rentan melemah kecuali BOJ memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish atau otoritas Jepang kembali melakukan intervensi langsung. Sebelumnya, intervensi bersama AS dan Jepang pada akhir Juli sempat mendorong yen menjauh dari level terlemah dalam 40 tahun, yakni 163,99 per dolar AS. Namun, yen kembali kehilangan sebagian besar penguatannya sejak intervensi tersebut. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan dirinya telah bertemu dengan Bessent dan sepakat bahwa pergerakan yen yang tertib penting bagi stabilitas pasar global.
Baca Juga: OpenAI Bantah Tuduhan Apple Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat Sementara itu, dolar AS secara keseluruhan masih mendapatkan dukungan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Pasar memperkuat taruhan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal hawkish dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole. Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan menuju target 2%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mencapai 65%, meningkat dari sekitar 41% sepekan sebelumnya. Namun, sejumlah analis menilai pernyataan Warsh belum tentu menandakan dimulainya siklus kenaikan suku bunga baru. "Menurut pandangan kami, hal tersebut tidak serta-merta berarti adanya siklus kenaikan suku bunga. The Fed akan tetap bergantung pada data," kata Chief European Economist Jefferies Mohit Kumar dalam sebuah catatan. Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed, dengan laporan nonfarm payrolls pada Jumat (4/9/2026) menjadi salah satu indikator utama.
Baca Juga: Ikea Pangkas Harga, Kejar Daya Beli Eropa Dolar Menguat terhadap Sejumlah Mata Uang
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,2% menjadi 99,623. Euro melemah 0,2% menjadi US$1,1589 menjelang rilis data inflasi zona euro. Sebelumnya, euro telah menguat lebih dari 1% sepanjang Agustus. Poundsterling berada di level US$1,3532 setelah mencatat kenaikan sekitar 0,5% pada bulan lalu. Sementara itu, dolar Australia berada di US$0,7152 dan dolar Selandia Baru di US$0,5900, setelah kedua mata uang tersebut sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan.