KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada awal perdagangan Asia, Senin (19/10/2026), sementara euro melemah di tengah gejolak politik dan kerusuhan di Prancis. Investor juga mencermati data pertumbuhan ekonomi China serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan Eropa.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah Senin (19/10), Investor Cermati Belanja AI dan Kinerja Emiten Melansir
Reuters, Euro turun 0,1% menjadi US$ 1,1225 pada awal perdagangan Asia. Pelemahan mata uang bersama Eropa tersebut membantu menahan tekanan terhadap dolar AS yang sebelumnya bergerak mendekati level terendah bulan ini. Indeks dolar AS tercatat stabil di 101,83. Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu (18/10/2026) mengecam aksi kekerasan yang terjadi di tengah demonstrasi terkait tingginya biaya hidup. Kerusuhan tersebut menjadi salah satu gejolak terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Kieran Williams, Kepala Valas Asia di InTouch Capital Markets, mengatakan dampak kerusuhan terhadap euro lebih mungkin muncul melalui pasar obligasi pemerintah Prancis dibandingkan secara langsung terhadap mata uang tersebut. “Kerusuhan akhir pekan ini memengaruhi euro terutama melalui obligasi Prancis, bukan secara langsung,” ujarnya.
Baca Juga: Populasi Beijing Diprediksi Super-Tua 2035, Sepertiga Warga Berusia 60 Tahun ke Atas Rupiah menjadi perhatian investor Asia Di pasar valuta negara berkembang Asia, perhatian investor tertuju pada rupiah setelah MSCI mengancam mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi
standalone market pekan lalu. Peringatan tersebut memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia. IHSG anjlok 11,6% pada Jumat (16/10/2026), sementara rupiah ditutup melemah di level Rp 18.000 per dolar AS, menjadi level terlemah dalam hampir tiga bulan. Investor kini mencermati apakah tekanan di pasar saham akan merembet ke pasar valuta asing dan obligasi domestik. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi arus modal asing dan kondisi keuangan Indonesia. Sementara itu, dolar AS bergerak stabil di level 158 yen. Gubernur Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda mengatakan inflasi yang mendasari di Jepang sudah “cukup dekat” dengan target bank sentral sebesar 2%. Dolar AS juga relatif stabil di level 6,6842 yuan dalam perdagangan luar negeri China menjelang rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2026. Ekonomi China diperkirakan tumbuh sedikit lebih cepat dibandingkan kuartal sebelumnya, ketika pertumbuhannya berada di level terendah dalam lebih dari tiga tahun. Di kawasan Pasifik, dolar Australia menguat 0,3% menjadi US$ 0,6965. Dolar Selandia Baru stabil di US$ 0,5656, sedangkan poundsterling Inggris bertahan di US$ 1,3329.
Baca Juga: IPhone Duo Ludes Saat Pre-order, Harga di Pasar Resale Di Negara Ini Rp 69,9 Juta Harga minyak turun, pasar menanti keputusan The Fed Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 1,7% menjadi US$ 108,02 per barel pada awal perdagangan Asia. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melonggarkan sanksi dan tarif terhadap Rusia, yang berpotensi membuka peluang peningkatan ekspor bahan bakar Rusia. Di sisi kebijakan moneter, kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas 84% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan dua hari yang dijadwalkan mulai 28 Oktober. Probabilitas tersebut relatif tidak berubah dibandingkan Jumat lalu, berdasarkan perangkat FedWatch CME Group. Williams mengatakan pelaku pasar cenderung membatasi pengambilan posisi menjelang keputusan The Fed pada 28 Oktober dan Bank Sentral Eropa (ECB) pada 29 Oktober.
Baca Juga: Harga Minyak Tergelincir di Pagi Ini (19/10): Brent Anjlok 1,3% dan WTI Turun 0,5% Ketidakpastian akibat perkembangan politik di Prancis juga berpotensi membuat pergerakan pasar tetap sensitif terhadap berita. Di pasar kripto, Bitcoin menguat 1,4% menjadi US$ 82.067,66. Sementara itu, Ether naik 3% menjadi US$ 2.420,22. Pergerakan mata uang global pada awal pekan ini dipengaruhi kombinasi risiko politik Eropa, prospek pasokan energi Rusia, dan ekspektasi suku bunga. Bagi Indonesia, perkembangan rupiah akan menjadi perhatian khusus di tengah tekanan pasar saham dan kekhawatiran investor terhadap status Indonesia dalam indeks MSCI.