KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, seiring meningkatnya permintaan aset
safe haven akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko resesi global. Melansir
Reuters pada perdagangan Selasa (31/3/2026), dolar kembali menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Namun, penguatan terhadap yen Jepang terbatas setelah muncul kembali ancaman intervensi dari otoritas Tokyo.
Baca Juga: Trump Bakal Meminta Negara-Negara Arab Membiayai Perang Iran Yen sempat menyentuh level terlemah sejak Juli 2024 sehari sebelumnya, sebelum diperdagangkan di kisaran 159,81 per dolar AS pada sesi Asia. Secara bulanan, yen tercatat melemah sekitar 2,4%, tertekan oleh ketergantungan Jepang terhadap impor energi di tengah lonjakan harga minyak global. Sementara itu, euro melemah 0,3% dan berada di jalur penurunan sekitar 3% sepanjang Maret. Dolar Australia dan Selandia Baru juga merosot ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Dolar Australia, yang sebelumnya relatif bertahan, mulai tertekan seiring pergeseran fokus pasar dari inflasi ke kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Mata uang tersebut sempat menyentuh level terendah dua bulan di US$0,6834. Di kawasan Asia, won Korea Selatan juga melemah hingga mencapai posisi terendah sejak 2009.
Baca Juga: China Bentuk Organisasi Data Global untuk Dorong Standar Industri Indeks dolar AS tercatat menyentuh level tertinggi sejak Mei tahun lalu di posisi 100,61 pada Senin, dan telah menguat sekitar 2,9% sepanjang bulan ini. Penguatan dolar didorong oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Ketegangan semakin meningkat setelah laporan adanya serangan terhadap kapal tanker minyak Kuwait di dekat Dubai, yang turut mendorong harga minyak lebih tinggi. Analis ING Chris Turner menyatakan bahwa tanpa sinyal deeskalasi yang jelas dari Iran, sulit melihat dolar kehilangan momentumnya dalam waktu dekat. Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan bank sentral masih akan mengambil pendekatan “wait and see” terhadap dampak perang terhadap inflasi dan ekonomi. Pernyataan tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi jangka pendek dan meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Meski demikian, dolar tetap perkasa karena statusnya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Imigran Meksiko Tewas di Tahanan ICE, Total Kematian Capai 14 Kasus di 2026 Menariknya, aset safe haven lain seperti obligasi dan emas justru tidak menunjukkan kinerja kuat sejak konflik pecah. Yen yang biasanya menjadi pelindung nilai juga belum mampu menguat signifikan, sementara franc Swiss tertekan oleh sinyal dari bank sentralnya yang ingin menahan penguatan mata uang. Sepanjang Maret, dolar tercatat menguat hampir 4% terhadap franc Swiss ke level 0,80. Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi kawasan Eropa serta data aktivitas manufaktur China yang diperkirakan akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi global di tengah gejolak geopolitik.