Dolar AS Menguat terhadap Yen Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap yen Jepang pada perdagangan Kamis (6/8/2026), didukung permintaan aset safe haven di tengah penantian investor terhadap perkembangan pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran serta rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pada Jumat (7/8).

Mengutip Reuters, dolar AS naik 0,44% terhadap yen ke level 158,45 yen per dolar AS.

Baca Juga: Minyak Brent Ditutup di Atas US$ 82, RUU Iran soal Selat Hormuz Jadi Sorotan


Penguatan ini menjadi kenaikan harian ketiga berturut-turut setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam 13 pekan di 155,20 yen pada Senin (3/8), menyusul intervensi bersama otoritas Jepang dan Departemen Keuangan AS untuk menopang mata uang Jepang.

Analis strategi valuta asing dan makroekonomi BNY John Velis mengatakan, pasar saat ini cenderung menunggu kepastian terkait negosiasi konflik Iran serta data ketenagakerjaan AS.

"Harapan adanya kabar baik mengenai gencatan senjata atau kesepakatan di Teluk Persia telah mengurangi sebagian premi dolar, seiring penurunan harga minyak. Hari ini pasar cenderung sepi karena investor menunggu data nonfarm payrolls pada Jumat," ujarnya.

Sementara itu, euro turun 0,28% ke US$ 1,1521, sedangkan poundsterling melemah 0,15% ke US$ 1,34485.

Adapun indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,31% menjadi 99,97, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam enam pekan pada awal pekan ini.

Baca Juga: Harga Emas Pangkas Penguatan, Kenaikan Minyak akibat Iran Tekan Sentimen Pasar

Pasar Cermati Ketegangan di Selat Hormuz

Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri konflik AS-Iran disebut akan memberikan Iran kendali atas lalu lintas kapal yang masuk ke Selat Hormuz.

Pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan tersebut. Presiden Donald Trump memang mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah dekat.

Namun, para pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan menyetujui penguasaan akses jalur pelayaran energi tersebut oleh Iran.

Di pasar energi, harga minyak Brent naik 3,8% dan ditutup di level US$ 82,49 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih berada di bawah level hampir US$ 100 per barel yang sempat tercapai pada Juli ketika konflik kembali memanas.

Analis Scotiabank Shaun Osborne mengatakan, posisi beli bersih (net long) dolar AS oleh spekulan terhadap mata uang utama lainnya kini mendekati rekor tertinggi.

Kondisi ini membuat dolar rentan mengalami koreksi apabila muncul sentimen yang negatif bagi mata uang AS.

Baca Juga: SpaceX Tertekan, Potensi Aksi Jual Orang Dalam Bayangi Pergerakan Saham

Data Payroll Jadi Penentu Arah The Fed

Pelaku pasar kini menanti laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS untuk Juli yang dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Data terbaru menunjukkan sektor jasa AS masih tumbuh kuat pada Juli, meski pertumbuhan lapangan kerja di sektor tersebut mulai melambat.

Pada pertemuan bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral tetap berkomitmen menurunkan inflasi dan masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada September apabila diperlukan.

"Setiap data ekonomi setelah rapat The Fed Juli menjadi sangat penting. Data payroll besok berpotensi memberi pengaruh besar terhadap pergerakan dolar terhadap yen. Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, pasar kemungkinan akan kembali menambah posisi beli dolar terhadap yen," kata analis valuta asing ING, Francesco Pesole.

Baca Juga: ConocoPhillips Ganti CEO di Tengah Lonjakan Laba Terbesar Sejak 2022

Berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom, jumlah tenaga kerja nonpertanian AS diperkirakan bertambah 80.000 pada Juli, meningkat dibandingkan penambahan 57.000 pada Juni. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,2%.

Di sisi lain, Gubernur The Fed Lisa Cook menyatakan terbuka terhadap kemungkinan menaikkan suku bunga jangka pendek apabila inflasi masih terlalu tinggi.

Senada, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mendukung keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan sebelumnya dan menilai bank sentral masih membutuhkan lebih banyak data sebelum rapat kebijakan pada 15–16 September.