Dolar AS Menguat Tipis Rabu (10/6), Konflik Timur Tengah Kembali Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Rabu (10/6/2026), setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran.

Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi AS yang dinilai krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Inflasi Produsen Jepang Naik 6,3%, Imbas Kejutan Energi Akibat Konflik Timur Tengah


Militer AS pada Selasa (9/6/2026) meluncurkan serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Teheran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS di Selat Hormuz.

Insiden tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek perdamaian kedua negara dan berpotensi mengganggu gencatan senjata yang masih rapuh.

Meski demikian, Trump berupaya meredam kekhawatiran pasar dengan menyebut insiden tersebut bukan masalah besar dan memastikan pilot helikopter dalam kondisi selamat.

Ekonom Commonwealth Bank of Australia Harry Ottley menilai, konflik AS-Iran secara keseluruhan masih mengarah pada jalur deeskalasi meskipun sempat terjadi pelanggaran gencatan senjata dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Hampir 1% Rabu (10/6), Dipicu Serangan Baru AS ke Iran

Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat naik tipis 0,01% ke level 100,02.

Sementara itu, euro melemah 0,05% ke posisi US$ 1,1537 dan poundsterling turun 0,04% menjadi US$ 1,337 per dolar AS.

Status AS sebagai produsen energi utama dinilai membuat ekonominya relatif lebih tahan terhadap gejolak harga minyak dibandingkan negara-negara lain.

Kondisi ini mendorong permintaan aset safe haven berupa dolar AS di tengah konflik Iran, sekaligus menekan mata uang seperti euro dan yen Jepang.

Di Jepang, pasar kini hampir sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) pada pertemuan kebijakan 16 Juni mendatang. Namun, analis menilai langkah tersebut belum tentu cukup untuk memperkuat yen secara signifikan.

Baca Juga: NASA Tunjuk Astronaut Artemis III, SpaceX dan Blue Origin Siap Uji Wahana Bulan

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, penguatan yen akan lebih bergantung pada sinyal kebijakan yang lebih agresif dari Gubernur BOJ Kazuo Ueda terkait percepatan kenaikan suku bunga berikutnya.

Tanpa sinyal tersebut, pemerintah Jepang diperkirakan masih harus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang mata uangnya.

Yen Jepang tercatat melemah tipis 0,03% ke level 160,38 per dolar AS, masih berada di sekitar level 160 yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis yang berpotensi memicu intervensi otoritas Jepang.

Pada hari yang sama, data menunjukkan harga grosir Jepang naik 6,3% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan mencerminkan meningkatnya tekanan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Mei yang akan dirilis kemudian hari.

Baca Juga: SpaceX Catat Permintaan IPO Rp4.485 Triliun, Terbesar dalam Sejarah

Data tersebut dinilai penting untuk mengukur apakah tekanan inflasi akibat tingginya harga energi semakin meluas dan berpotensi mendorong The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Analis senior Mitsubishi UFJ Bank Akihiko Yokoo mengatakan, apabila data inflasi menunjukkan tekanan harga yang semakin kuat, dolar AS berpotensi memperoleh tambahan dukungan dari pasar.

Selain data inflasi AS, investor juga menantikan pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (11/6), yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia melemah 0,1% ke level US$ 0,7021, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,17% ke posisi US$ 0,5812.