Dolar AS Mundur dari Level Tertinggi 18 Bulan Rabu (14/10), Menanti Data Inflasi



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring pelaku pasar menanti rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga.

Greenback terkoreksi dari level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan sebelumnya. Penurunan harga minyak dan evaluasi investor terhadap reli saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menopang permintaan aset AS turut menekan dolar.

Baca Juga: Bank Sentral Singapura Tahan Kebijakan Moneter, Kejutkan Analis


Sementara itu, euro mempertahankan penguatannya di tengah kekhawatiran mengenai anggaran pemerintah Prancis. Kekhawatiran tersebut membuat imbal hasil obligasi di kawasan Eropa tetap tinggi dan menjaga kehati-hatian investor.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun tipis 0,02% ke 102,16 pada Rabu. Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), indeks ini telah melemah 0,35%.

Euro naik 0,04% menjadi US$ 1,1203. Yen Jepang relatif stabil di level 158,32 per dolar AS, sedangkan pound sterling menguat 0,03% ke US$ 1,3256.

Carol Kong, ahli strategi valuta asing Commonwealth Bank of Australia menilai, kejutan kenaikan inflasi inti dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.

“Risikonya adalah inflasi inti berdasarkan indeks harga konsumen (CPI) lebih tinggi dari perkiraan akibat kuatnya permintaan konsumen dan kenaikan biaya. Kondisi ini dapat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan mendorong dolar AS,” kata Kong dalam sebuah catatan.

Baca Juga: Harga Emas Spot Bertahan di US$ 4.161 per Ons Rabu (14/10) Jelang Data CPI AS

Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data CPI September. Inflasi bulanan diperkirakan mencapai 0,6%, meningkat dari 0,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,6% dari 3,4%.

Selain data inflasi, investor akan mencermati publikasi Beige Book The Fed yang memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.

Pernyataan para pejabat bank sentral juga menjadi perhatian. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams sebelumnya mengatakan masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini, tetapi tidak melihat kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut pada 2027.

Namun, investor mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada bulan ini setelah dua pejabat The Fed menekankan perlunya mengumpulkan lebih banyak bukti sebelum memutuskan apakah pengetatan moneter tambahan diperlukan. Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyatakan ekspektasi inflasi masih “terjangkar dengan baik”.

Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober mencapai 77%, naik dari 51% sebulan sebelumnya. Meski demikian, pasar masih memperhitungkan pengetatan kebijakan sekitar 75 basis poin hingga akhir 2027.

Baca Juga: Buntut Konflik Musk-Ambani, Starlink Terancam Diblokir di India

Pelaku pasar juga akan mencermati agenda Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin yang dijadwalkan berbicara di Virginia, serta Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman yang akan mengikuti diskusi di Bangkok.

Pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga berlanjut di Bangkok. Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde dijadwalkan tampil dalam sejumlah agenda pada Rabu.

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia menguat 0,06% terhadap dolar AS menjadi US$ 0,6984. Dolar Selandia Baru juga naik 0,09% ke US$ 0,5614.