KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski berstatus mata uang
safe haven, penguatan dolar AS masih membayangi yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) di tengah ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi. Melansir
Trading Economics pada Jumat (2/10) pukul 17.10 WIB harga valas USD/JPY tercatat di level 157,647, melemah 0,28% secara harian, namun masih menguat 1,16% dalam sepekan. Sementara USD/CHF berada di level 0,82821, turun 0,33% secara harian, tetapi menguat 2,56% dalam sepekan.
Ada pun indeks dolar AS (DXY) masih berkutat di level yang tinggi, yakni 101,9 atau melemah 0,12% secara harian dan menguat 0,96% sepekan terakhir. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, penguatan dolar AS saat ini lebih banyak didorong faktor siklikal, terutama data aktivitas ekonomi AS yang solid sehingga pasar memperkirakan The Fed masih akan mengetatkan kebijakan.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Yen dan Franc Swiss Masih Tertekan hingga Akhir 2026 Sementara itu, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. “Dalam kondisi ini, JPY dan CHF memang cenderung tertinggal terhadap dolar, karena selisih suku bunga lebih menentukan daripada status safe haven,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Menurutnya, dalam kondisi tersebut JPY dan CHF cenderung tertinggal terhadap dolar AS. Pasalnya, perbedaan suku bunga menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan pergerakan mata uang dibandingkan
status safe haven masing-masing. Namun, yen masih memiliki sejumlah katalis yang berpotensi menahan pelemahannya. Tokyo Consumer Price Index (CPI) yang lebih tinggi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) berikutnya. Selain itu, risiko intervensi pemerintah Jepang juga tetap menjadi perhatian pasar, terutama setelah intervensi bersama Jepang dan AS pada akhir Juli. Sementara itu, franc Swiss relatif lebih lemah. Di sisi lain, Swiss National Bank (SNB) diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 0%.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 0,5%, Nilai Tukar Poundsterling Bangkit Menuju US$ 1,33 Kondisi tersebut membuat franc berpotensi digunakan sebagai mata uang pendanaan dalam strategi
carry trade. Meski demikian, Sutopo menilai pelemahan franc terhadap euro belum terlalu tajam, dengan EUR/CHF masih berada di sekitar 0,947. Memasuki sisa 2026, Sutopo mengatakan pergerakan JPY dan CHF akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global. Salah satunya adalah data ketenagakerjaan AS, khususnya
nonfarm payrolls (NFP), serta arah kebijakan The Fed. Pasar sebelumnya memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Oktober. Namun, data pekerjaan AS yang kuat dapat kembali membuka peluang kenaikan suku bunga dan menopang dolar AS. Selain itu, perkembangan konflik AS-Iran dan pergerakan harga minyak juga perlu dicermati. Investor juga perlu memperhatikan kebijakan BoJ dan SNB, termasuk potensi intervensi Jepang apabila USD/JPY mendekati level 160. Dari Eropa, risiko fiskal juga menjadi perhatian. Selisih imbal hasil obligasi Prancis dan Jerman yang melebar dapat meningkatkan daya tarik franc Swiss sebagai aset lindung nilai.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Begini Proyeksi EUR/USD, GBP/USD dan AUD/USD “Dari sini, strategi yang masuk akal adalah tidak membuang eksposur dolar, tetapi juga tidak menambahnya di dekat level tertinggi tahun ini,” jelas Sutopo. Untuk skenario dasar hingga akhir 2026, Sutopo memperkirakan DXY berada di kisaran 99-103. Adapun USD/JPY diproyeksikan bergerak di rentang 155-160 dengan bias tertekan oleh potensi intervensi Jepang ketika mendekati level 160. Sementara itu, USD/CHF diperkirakan berada di kisaran 0,80-0,85. “Level ini perlu ditinjau ulang setelah data NFP dan rapat The Fed, BoJ, serta SNB berikutnya,” pungkas Sutopo. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News