KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek mata uang utama dunia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Di tengah kuatnya indeks dolar AS (DXY) dan terbukanya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun, euro, poundsterling, dan dolar Australia masih menghadapi tekanan terhadap dolar AS. Melansir Trading Economics pada Sabtu (31/10) pukul 18.30 WIB, indeks dolar AS masih berkutat di level yang tinggi, yakni 101,8. Kemudian, EUR/USD berada di level 1,11583, turun 0,20% secara harian. Dalam sepekan, pasangan valas ini terkoreksi 0,39%.
Baca Juga: IHSG Ambles 16,7% pada Oktober, Cek Rekomendasi Saham untuk Senin (2/11) Sebaliknya, GBP/USD bergerak menguat 0,11% secara harian ke level 1,33916. Secara mingguan, pasangan mata uang ini juga naik 0,10%. Sementara itu, AUD/USD berada di level 0,70324, menguat 0,03% secara harian. Dalam periode sepekan, dolar Australia terhadap dolar AS tersebut naik tipis 0,01%. Head Research Analyst Traze Andalan Futures, Kuswanto, mengatakan keputusan The Fed menahan suku bunga pada pertemuan Oktober belum sepenuhnya menghilangkan potensi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut membuat dolar AS masih memiliki keunggulan terhadap sejumlah mata uang utama. Terlebih, apabila data ekonomi AS tetap kuat dan The Fed mempertahankan sikap hawkish. "EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD masih menghadapi tekanan, terutama jika data ekonomi AS tetap kuat dan The Fed mempertahankan sikap hawkish," ujar Kuswanto kepada Kontan, Jumat (30/10/2026). Meski demikian, pergerakan ketiga pasangan mata uang tersebut tidak hanya ditentukan oleh kebijakan The Fed. Euro juga dipengaruhi arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), sedangkan poundsterling bergantung pada kebijakan Bank of England (BoE) dan kondisi ekonomi Inggris. Adapun dolar Australia sensitif terhadap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA), pergerakan harga komoditas, serta perkembangan ekonomi China. Menurut Kuswanto, prospek EUR/USD hingga akhir 2026 masih berpeluang menguat apabila tekanan terhadap dolar AS mulai mereda. Namun, perbedaan arah kebijakan moneter The Fed dan ECB tetap menjadi tantangan bagi mata uang tunggal Eropa tersebut. Sementara itu, prospek GBP/USD relatif positif apabila BoE mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Kendati demikian, pergerakan poundsterling tetap rentan terhadap perkembangan pertumbuhan ekonomi Inggris dan kebijakan pemerintah setempat. Untuk AUD/USD, Kuswanto menilai pasangan mata uang ini cukup menarik untuk dicermati hingga akhir tahun. Pasalnya, dolar Australia berpotensi memperoleh dukungan apabila perekonomian China membaik dan harga komoditas tetap kuat. "Kalau harus memilih satu, saya melihat AUD memiliki peluang yang cukup menarik, terutama dari sisi
risk-reward. Namun, bukan berarti investor harus langsung masuk dalam jumlah besar," jelasnya
Dari sisi teknikal, Kuswanto memproyeksikan EUR/USD masih berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menguji target di level 1,1010 hingga akhir tahun 2026. Sebaliknya, GBP/USD berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji target pertama di level 1,3442 dan target kedua di 1,3488. Adapun AUD/USD diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan menuju target pertama di level 0,7119 dan target kedua di 0,7181.
Baca Juga: Pendapatan Prodia (PRDA) Tumbuh 8,3% hingga September 2026, Laba Bersih Naik 10% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News