KONTAN.CO.ID - Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada awal perdagangan Asia Jumat (8/5/2026), setelah kembali pecah bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran. Sementara itu, yen Jepang bergerak relatif stabil di tengah meningkatnya spekulasi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Baca Juga: Singapura Waspada! Hantavirus Sudah Masuk Negeri Merlion? Melansir
Reuters, ketegangan geopolitik meningkat setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (7/5/2026), menambah tekanan terhadap gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama sebulan terakhir. Pasar juga mencermati respons Iran terhadap proposal Washington untuk mengakhiri perang. Harga minyak melonjak menyusul perkembangan tersebut. Kontrak minyak mentah AS sempat naik hingga 3% pada perdagangan awal Asia, memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama naik tipis ke level 98,235. Penguatan ini memperpanjang rebound dolar dari posisi terendah lebih dari dua bulan yang sempat tercapai awal pekan lalu di tengah optimisme terhadap peluang kesepakatan damai. “Jalur menuju kesepakatan permanen jelas tidak akan berjalan lurus,” ujar Chris Weston, Head of Research Pepperstone.
Baca Juga: Trump Kena Pukulan Baru, Pengadilan Dagang AS Tolak Tarif Global 10% Menurutnya, pelaku pasar kini mulai meninjau ulang asumsi terkait normalisasi konflik dan pembukaan kembali arus pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat mendorong sentimen positif. Selain isu geopolitik, pasar juga menanti data ketenagakerjaan
nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat waktu setempat. Weston menilai dibutuhkan data yang benar-benar lemah untuk memicu volatilitas besar pada dolar AS. Di pasar mata uang lainnya, poundsterling diperdagangkan di level US$1,3555 dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan pertama sejak Maret, di tengah tekanan politik domestik menjelang hasil pemilu lokal Inggris. Euro relatif stabil di level US$1,1727 dan berada di jalur penguatan mingguan tipis. Sementara itu, dolar Australia berada di US$0,72059 dan dolar Selandia Baru di US$0,59365. Keduanya masih berpeluang menutup pekan di zona positif setelah sebelumnya didukung membaiknya selera risiko pasar.
Baca Juga: Laba OCBC Naik 5% di Kuartal I 2026, Waspadai Risiko Perang Timur Tengah Yen Stabil di Tengah Ancaman Intervensi Jepang Pelaku pasar juga masih fokus pada yen Jepang setelah serangkaian intervensi dan peringatan verbal dari otoritas Tokyo membantu menahan pelemahan mata uang tersebut. Yen bergerak stabil di kisaran 156,995 per dolar AS pada awal perdagangan Asia dan diperkirakan menutup pekan tanpa banyak perubahan. Diplomat mata uang utama Jepang pada Kamis menegaskan pemerintah tidak memiliki batasan frekuensi intervensi di pasar valuta asing dan terus berkomunikasi setiap hari dengan otoritas AS.
Pernyataan tersebut mempertegas komitmen Tokyo dalam mempertahankan yen yang masih berada di bawah tekanan.
Baca Juga: Kritik Harga Tiket Piala Dunia yang Mahal, Trump: Saya Tidak Akan Membayarnya “Dalam kondisi harga energi dan imbal hasil obligasi yang tinggi saat ini, intervensi Jepang hanya bisa menjadi sabuk pengaman bagi yen, tetapi belum mampu sepenuhnya menyelamatkannya,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore. Ia menilai yen masih akan terus menguji ketegasan Bank of Japan selama kondisi makroekonomi dan teknikal belum berubah signifikan.