KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan indeks dolar AS (DXY) membuat yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) masih berada di bawah bayang-bayang dominasi dolar AS. Meski demikian, kedua mata uang tersebut tetap memiliki peran sebagai aset
safe haven ketika pasar global memasuki fase
risk-off. Melansir
Trading Economics pada Jumat (2/10) pukul 17.10 WIB harga valas USD/JPY tercatat di level 157,647, melemah 0,28% secara harian, namun masih menguat 1,16% dalam sepekan.
Sementara USD/CHF berada di level 0,82821, turun 0,33% secara harian, tetapi menguat 2,56% dalam sepekan.
Baca Juga: Momentum Penguatan Dolar AS Mereda, Yen Jepang Berpeluang Menguat Lebih Besar Ada pun indeks dolar AS masih berkutat di level yang tinggi, yakni 101,9 atau melemah 0,12% secara harian dan menguat 0,96% sepekan terakhir. Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, penguatan DXY ini membuat JPY dan CHF cenderung tertinggal dalam jangka pendek. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh perbedaan imbal hasil (yield differential) serta arah kebijakan moneter bank sentral masing-masing negara. “Di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 101,87-102, prospek yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) memang cenderung berada di bawah bayang-bayang dominasi dolar,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Hal ini tidak terlepas dari perbedaan imbal hasil serta arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan Swiss National Bank (SNB) yang relatif lebih longgar dibandingkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di AS. Meski demikian, Wahyu melihat status JPY dan CHF sebagai mata uang
safe haven tetap terjaga. Kedua mata uang tersebut tidak serta-merta kehilangan fungsi lindung nilai hanya karena dolar AS sedang perkasa.
Baca Juga: Proyeksi Valas 2026: Dolar AS Menguat, Yen Mulai Menarik Dikoleksi “JPY dan CHF tidak serta-merta kehilangan fungsi lindung nilainya, melainkan lebih berfungsi sebagai peredam volatilitas sekunder ketika sentimen penghindaran risiko (risk-off) global mendadak melonjak akibat guncangan geopolitik atau makroekonomi,” jelasnya. Memasuki sisa 2026, pergerakan mata uang
safe haven tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi global, arah kebijakan bank sentral utama, serta stabilitas geopolitik internasional. Wahyu mengatakan, investor perlu mencermati sejumlah indikator utama, terutama data ketenagakerjaan dan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta kebijakan BoJ dan SNB. Perubahan kebijakan atau normalisasi dari BoJ dan SNB juga dapat memengaruhi daya tarik JPY dan CHF terhadap dolar AS. Dari sisi strategi, Wahyu menyarankan investor tidak sepenuhnya meninggalkan eksposur terhadap dolar AS yang masih menjadi mata uang dengan likuiditas terbesar. Namun, diversifikasi secara bertahap ke JPY dan CHF dapat dipertimbangkan ketika terjadi koreksi tajam atau lonjakan volatilitas pasar global.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Sentimen Domestik dan Geopolitik Tekan Pasar “Pendekatan yang paling bijak adalah tidak sepenuhnya meninggalkan eksposur dolar AS yang masih mendominasi likuiditas, melainkan mulai melakukan diversifikasi taktis secara bertahap ke JPY dan CHF,” katanya. Menurut Wahyu, diversifikasi tersebut terutama dapat dilakukan ketika terjadi koreksi tajam atau lonjakan volatilitas pasar global. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk mengantisipasi potensi pembalikan arah apabila penguatan DXY mulai kehilangan momentum. Hingga akhir 2026, Wahyu memproyeksikan DXY memiliki support kuat di kisaran 100,50-100,95. Sementara itu, resistance kunci DXY berada di kisaran 102,40-103,50.
Untuk pasangan USD/JPY, level support diproyeksikan berada di kisaran 154,80-156,90 dengan support berikutnya di area 152,70. Sementara resistance berada di kisaran 159,10-161,25.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa di Tengah Konflik Timur Tengah, Yen Sentuh Level Terlemah Adapun USD/CHF memiliki support di kisaran 0,8190-0,8270 dan support lanjutan di level 0,8030. Dari sisi atas, resistance berada di kisaran 0,8380-0,8510. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News