Dolar AS Rebound Tipis Kamis (30/7), Cerna Keputusan The Fed & Eskalasi Konflik Iran



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada awal perdagangan Asia, Kamis (30/7/2026), setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.

Di saat yang sama, sentimen pasar turut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul serangan udara AS ke Iran.

Baca Juga: BTS Boikot Grammy Awards 2027, Tolak Kategori Baru Musik Pop Asia


Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1% ke level 100,89 setelah pemerintah AS mengonfirmasi tengah melancarkan serangan udara di Iran.

Sementara itu, mata uang utama lainnya bergerak cenderung melemah terhadap dolar AS. Pound sterling turun 0,1% ke level US$ 1,3355 menjelang keputusan suku bunga Bank of England (BoE), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Euro juga melemah 0,1% ke posisi US$ 1,1457.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia dan dolar Selandia Baru relatif stabil masing-masing di level US$ 0,6959 dan US$ 0,5795. Yen Jepang juga bergerak datar di kisaran 163,455 yen per dolar AS.

Perkembangan geopolitik tersebut menahan pelemahan dolar AS yang sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli setelah keputusan kebijakan moneter The Fed.

Baca Juga: Laba Samsung Naik 19 Kali Lipat, Pendapatan Melonjak 130% pada Kuartal II 2026

Analis Pasar IG Fabien Yip mengatakan, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya, meskipun terdapat tiga anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berbeda pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga pada Juli.

"Meski ada tiga suara yang mendukung kenaikan suku bunga pada Juli, Ketua Warsh tidak memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera dilakukan dan mempertahankan nada yang sama seperti pada Juni," ujar Yip.

Menurutnya, sikap tersebut mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan investor karena The Fed dinilai enggan memberikan komitmen mengenai pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan apakah bank sentral mampu menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Kamis (30/7) Pagi, Brent ke US$87,30 & WTI ke US$83,70

Reaksi pasar juga terlihat di pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade setelah keputusan The Fed diumumkan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang sebesar 42,6% bahwa The Fed akan kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan peluang 24% sebelum pertemuan terbaru The Fed.

Kepala Riset Valuta Asing G10 Standard Chartered, Steve Englander, mengatakan pihaknya masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga.

Namun, ia mengingatkan pasar berpotensi bereaksi negatif apabila muncul persepsi bahwa bank sentral terlambat mengambil langkah yang diperlukan.

"Kami masih memperkirakan The Fed akan tetap menahan suku bunga. Namun kami khawatir pasar akan bereaksi negatif jika muncul persepsi bahwa bank sentral tidak bertindak ketika seharusnya bertindak," kata Englander.

Baca Juga: FIFA Tawarkan Rp723 Miliar untuk Federasi Pendukung Rencana Infantino

Ia menambahkan, banyak pelaku pasar menilai jawaban Warsh dalam konferensi pers terlalu umum dan tidak sejelas komunikasi yang biasa diberikan oleh ketua The Fed sebelumnya.

Di pasar aset digital, bitcoin naik 0,3% ke level US$ 63.650,06, sedangkan ether menguat 0,7% menjadi US$ 1.896,66.