KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam sepekan pada awal perdagangan Asia, Rabu (22/4/2026), seiring meningkatnya keraguan pasar terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran. Penguatan dolar terjadi setelah pernyataan Presiden Donald Trump mengenai perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dinilai belum memberikan kepastian, sehingga mendorong permintaan terhadap aset safe haven.
Baca Juga: Lebih dari 30 Negara Rapat di London, Susun Misi Pembukaan Selat Hormuz Melansir
Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat stabil di level 98,415, tertinggi sejak 13 April. Analis Westpac dalam risetnya menyebut sentimen pasar cenderung “risk-off” akibat ketidakpastian baru dalam perundingan damai AS-Iran. “Terjadi nuansa risk-off moderat semalam di tengah ketidakpastian terkait pembicaraan damai AS-Iran,” tulis Westpac. Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang utama relatif terbatas. Euro bertahan di level US$ 1,1739, sementara pound sterling berada di kisaran US$ 1,3519. Dolar Australia stagnan di US$ 0,7152 dan dolar Selandia Baru di US$ 0,5894. Terhadap yen Jepang, dolar AS melemah tipis 0,1% ke level 159,26 yen, setelah data menunjukkan ekspor Jepang meningkat selama tujuh bulan berturut-turut, meskipun konflik di kawasan Teluk masih berlangsung.
Baca Juga: Selat Hormuz: 30+ Negara Siapkan Rencana Pembukaan, Apa Artinya? Analis pasar IG Tony Sycamore menilai, dinamika politik internal Iran menjadi faktor utama yang membayangi prospek perdamaian. “Pertarungan kekuasaan internal tetap menjadi hambatan terbesar bagi tercapainya kesepakatan jangka panjang,” ujarnya. Dari sisi domestik AS, komentar kandidat pimpinan bank sentral Kevin Warsh dinilai cenderung hawkish. Dalam sidang konfirmasi di Senat, Warsh menegaskan independensi The Fed dan tidak menjanjikan penurunan suku bunga kepada Trump.
Baca Juga: Australia Minta Roblox dan Minecraft Jelaskan Langkah Perlindungan Anak Chief Japan FX Strategist JPMorgan Chase & Co, Junya Tanase menyebut, nada pernyataan Warsh relatif ketat, meski dampaknya ke pasar masih terbatas. “Secara keseluruhan nadanya sedikit hawkish, tetapi penguatan dolar lebih banyak dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat isu Iran,” jelasnya. Sementara itu, data penjualan ritel AS menunjukkan pertumbuhan 1,7% pada Maret, melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,4%. Kenaikan ini didorong lonjakan harga bensin akibat konflik dengan Iran serta peningkatan belanja masyarakat. Di pasar kripto, Bitcoin naik tipis 0,2% ke level US$ 75.894,67, sementara Ether juga menguat 0,2% ke US$ 2.321,92.