Dolar AS Stabil Ditopang Permintaan Safe Haven, Tapi Bersiap Catat Pelemahan Mingguan



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (17/7/2026).

Meski demikian, mata uang Negeri Paman Sam itu diperkirakan mencatat pelemahan secara mingguan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Baca Juga: Eskalasi Konflik AS-Iran Meluas, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Sebulan


Di sisi lain, meningkatnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat memicu permintaan terhadap aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.

Eskalasi konflik yang telah berlangsung selama sepekan juga mendorong harga minyak naik mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen AS naik ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli.

Namun, pelaku pasar menilai perbaikan tersebut berpotensi bersifat sementara karena konflik di Timur Tengah dapat kembali mendorong kenaikan harga bensin.

Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman Elias Haddad mengatakan, aksi jual saham global yang dipimpin sektor teknologi serta gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah memicu perpindahan dana ke aset yang lebih aman.

"Dolar AS berhasil memangkas sebagian pelemahannya sepanjang pekan ini, sementara imbal hasil obligasi global turun tipis," ujarnya.

Di pasar valuta asing, euro bergerak stabil di level US$ 1,1437 dan berpeluang menguat sekitar 0,2% sepanjang pekan.

Baca Juga: Harga Tiket Piala Dunia Melonjak di Atas US$ 7.500

Sementara itu, pound sterling melemah 0,23% ke level US$ 1,3449 pada Jumat, namun tetap berada di jalur penguatan selama tiga pekan berturut-turut.

Penguatan tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi Inggris yang membaik serta meningkatnya kepastian politik menjelang Andy Burnham yang dijadwalkan menjabat sebagai perdana menteri pada Senin mendatang.

Dolar Australia juga diperkirakan mencatat penguatan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut.

Namun, mata uang tersebut turun 0,24% ke level US$ 0,6979 pada perdagangan Jumat seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang menekan pasar saham global.

Yen Masih Tertekan, Risiko Intervensi Meningkat

Yen Jepang bergerak stabil di kisaran 162,35 per dolar AS, masih berada dekat level terlemah dalam hampir 40 tahun setelah sempat menyentuh 162,84 pada awal bulan ini.

Pelaku pasar tetap mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali menegaskan kesiapan pemerintah mengambil langkah tegas untuk menstabilkan nilai tukar yen.

Baca Juga: Final Piala Dunia akan Pertemukan PM Spanyol dan Trump di Tengah Perselisihan

Kepala Strategi Valuta Asing Scotiabank Shaun Osborne mengatakan, peringatan lisan dari pemerintah Jepang terhadap pelemahan yen kini telah mencapai level yang sangat tinggi.

"Kami telah melihat intervensi yang sangat besar, bahkan mungkin terbesar, untuk mendukung yen. Namun nilai tukar dolar AS terhadap yen masih bertahan di kisaran 162, sehingga risiko intervensi kembali dalam waktu dekat cukup tinggi," katanya.

Indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 100,73. Indeks tersebut diperkirakan melemah sekitar 0,2% sepanjang pekan ini.

Sebelumnya, indeks dolar sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda.

Namun, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat konflik geopolitik membantu menopang pergerakan dolar.

Baca Juga: DK PBB Jatuhkan Sanksi kepada Pemimpin Kelompok Bersenjata di Kongo Timur

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun

Data ekonomi yang dirilis pada Kamis menunjukkan penjualan ritel AS naik tipis pada Juni. Penurunan harga bensin menekan nilai penjualan di stasiun pengisian bahan bakar, tetapi lonjakan belanja daring mendorong ekonom merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2026.

Data lain juga menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, memperkuat gambaran bahwa ekonomi tetap tangguh.

Meski inflasi konsumen AS melambat pada Juni, banyak ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir bulan ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini hanya sekitar 10%, turun dari sekitar 25% sepekan lalu.

Baca Juga: Investasi SpaceX Bikin Kekayaan Kepala SBA Kelly Loeffler Melonjak Jutaan Dolar

Sementara itu, pasar memperkirakan total kenaikan suku bunga hingga sekitar 28 basis poin sampai akhir tahun.

Osborne menilai ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed masih terlalu agresif.

"Saya masih melihat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terlalu tinggi. Saya tidak memperkirakan ada kenaikan suku bunga hingga menjelang akhir tahun," ujarnya.

TAG: