KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada awal perdagangan Kamis (9/4/2026), setelah sempat melemah tajam sehari sebelumnya. Investor kini mencermati apakah gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran dapat bertahan. Melansir
Reuters, Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik tipis 0,03% ke level 99,09. Sementara itu, euro melemah 0,07% ke US$1,1654.
Baca Juga: Donald Trump Kritik NATO soal Iran, Hubungan Aliansi Memanas Yen Jepang juga terkoreksi 0,06% ke level 158,7 per dolar AS, setelah sebelumnya menguat. Poundsterling turun 0,04% ke US$1,3387. Sebelumnya, dolar sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan setelah pengumuman gencatan senjata di Timur Tengah. Namun, kesepakatan tersebut dinilai masih rapuh. Ketegangan masih berlanjut, dengan Israel tetap melancarkan operasi militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Di sisi lain, Iran menuduh AS dan Israel melanggar kesepakatan serta menyatakan bahwa melanjutkan pembicaraan damai menjadi “tidak masuk akal.” Selain itu, Selat Hormuz masih belum sepenuhnya dibuka untuk pelayaran bebas. Pelaku industri pelayaran juga masih menunggu kejelasan sebelum kembali melintasi jalur vital tersebut.
Baca Juga: Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh Analis Pasar Senior capital.com Daniela Hathorn mengatakan bahwa setiap tanda melemahnya gencatan senjata berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat dolar AS. “Jika pembatasan di Selat Hormuz kembali meningkat atau konflik meluas, harga minyak bisa naik lagi, dolar menguat, dan aset berisiko tertekan,” ujarnya. Dolar AS menjadi salah satu mata uang yang diuntungkan dari konflik Iran, mengingat AS merupakan eksportir energi bersih, sehingga relatif lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak dibandingkan negara importir seperti Jepang dan sebagian negara Eropa. Perang selama lima pekan tersebut juga telah mengguncang kepercayaan investor serta memicu gangguan besar terhadap pasokan minyak dan gas global.
Baca Juga: Pajak Ekspor Minyak Brasil Dibatalkan: Raksasa Migas Hemat Miliaran Analis menilai, gencatan senjata saat ini justru memberi Iran pengaruh lebih besar terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dibanding sebelum konflik, terutama setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran. Ke depan, pasar akan mencermati data ekonomi AS, termasuk data belanja konsumen dan inflasi berbasis indeks PCE yang akan dirilis. Data yang kuat berpotensi mendorong penguatan dolar lebih lanjut. Analis Mitsubishi UFJ Financial Group Akihiko Yokoo memperkirakan, pasangan dolar-yen akan bergerak dalam kisaran terbatas, meskipun data ekonomi AS yang solid dapat memicu rebound dolar.
Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda juga dijadwalkan memberikan keterangan di parlemen Jepang pada hari yang sama.
Baca Juga: Gejolak Energi Global: Minyak Brasil Jadi Rebutan China dan India Di pasar mata uang lain, dolar Australia melemah 0,13% ke US$0,7034, sementara dolar Selandia Baru turun tipis 0,02% ke US$0,5821. Sementara itu, pasar kripto turut tertekan. Bitcoin turun 0,50% ke US$71.018,20 dan Ethereum melemah 0,96% ke US$2.188,86.