Dolar AS Stabil Selasa (11/8), Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Arah The Fed



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (11/8/2026), seiring investor menanti rilis data inflasi konsumen AS Juli yang akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Pelaku pasar akan mencermati data inflasi yang dijadwalkan dirilis Rabu (12/8/2026).

Baca Juga: Sea Ltd Cetak Pendapatan US$7,79 Miliar, Ditopang Kinerja Shopee


Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed, terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu menunjukkan perusahaan secara tak terduga memangkas jumlah tenaga kerja pada bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September kembali berkurang.

Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka Fed funds, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini berada di 48%, turun dari 58% sepekan sebelumnya.

"Selama tren disinflasi ini berlanjut, sulit untuk membuat alasan bahwa suku bunga perlu dinaikkan," kata Eric Theoret, Currency Strategist Scotiabank.

Namun, jika inflasi kembali meningkat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali menguat.

Sebaliknya, berlanjutnya tren penurunan inflasi berpotensi semakin menekan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter.

Baca Juga: Harga Kopi Arabika Meroket Selasa (11/8), Tembus Level Tertinggi 3 Pekan

Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi

Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar karena kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.

Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi lebih dari sepekan pada perdagangan Selasa, sebelum memangkas sebagian kenaikannya.

Investor menimbang tanda-tanda kemajuan pembicaraan Oman dan Iran terkait lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dengan gangguan pasokan energi yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump merespons persyaratan Iran terkait kesepakatan damai dengan tuntutan agar Teheran memberikan kompensasi atas korban perang, serangan, dan demonstrasi.

Tuntutan tersebut dinilai berpotensi memperumit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.

Baca Juga: Lakukan Penerbangan Militer, Trump Naik Pesawat Rahasia dari Turki Via Truk Katering

Dolar Stabil, Yen Menguat

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik tipis 0,04% menjadi 99,81. Euro relatif stabil di posisi US$1,1542.

Sementara itu, yen Jepang menguat 0,05% menjadi 159,19 per dolar AS.

Pemerintah AS dan Jepang pada bulan lalu berkoordinasi untuk menopang yen setelah mata uang tersebut merosot ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS. Penguatan yen sejak saat itu memunculkan kembali kemungkinan intervensi lebih lanjut.

"Ini adalah situasi yang membutuhkan pembuktian dalam hal suku bunga. Sampai mereka memberikan fundamental yang lebih baik, mata uang ini akan terus melemah," ujar Theoret.

Baca Juga: Harga Aluminium Tembus Level Tertinggi 7 Pekan Selasa (11/8), Pasokan Jadi Sorotan

Di kawasan Asia Pasifik, Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunga acuan di 4,35%, sesuai ekspektasi pasar.

Namun, bank sentral tersebut memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut masih mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang terdorong oleh lonjakan biaya energi.

Dolar Australia menguat 0,18% terhadap dolar AS menjadi US$0,7065.