Dolar AS Stabil Selasa (14/7) Pagi Jelang Data Inflasi AS, Yen Masih Tertekan



KONTAN.CO.ID - Dolar AS bergerak stabil pada perdagangan Selasa (14/7/2026) menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi perhatian utama pasar.

Sementara itu, yen Jepang tetap berada di bawah tekanan di tengah kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang serta perkembangan terkait alokasi dana pensiun negara.

Baca Juga: Volkswagen Umumkan 50.000 PHK Tambahan: Strategi Demi Bersaing di Pasar Global


Melansir Reuters, Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, tercatat datar di level 101,27.

Pelaku pasar kini menanti serangkaian data penting AS, dimulai dari indeks harga konsumen (CPI) Juni yang akan dirilis Selasa, disusul indeks harga produsen (PPI) pada Rabu.

Selain itu, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga dijadwalkan menyampaikan kesaksian semesterannya di hadapan Kongres AS.

Di sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.

Presiden Donald Trump pada Senin mengatakan Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan akan memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dengan mekanisme tertentu setelah terjadinya serangan rudal dan drone terbaru antara kedua negara.

Pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal serta drone dalam skala besar sepanjang akhir pekan. Teheran menyerang fasilitas AS di sejumlah negara kawasan Teluk pada Minggu dan menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.

Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak. Pada Senin, harga minyak melonjak lebih dari 9% dan mencapai level tertinggi dalam satu bulan.

Pada perdagangan Selasa pagi, kontrak minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat lebih dari 2% ke level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Di pasar valuta asing, euro stabil di US$ 1,1383 per dolar AS, sementara pound sterling diperdagangkan pada US$ 1,3347.

Baca Juga: Refund Tarif Trump Dorong Defisit Anggaran AS Melonjak Tajam

Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed Menguat

Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan, suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam waktu dekat jika data menunjukkan inflasi masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.

Kepala Strategi Valas National Australia Bank, Ray Attrill mengatakan, data inflasi inti (core CPI) sebesar 0,3% atau lebih pada Juni dapat menjadi sinyal bahwa indikator inflasi pilihan Fed, yakni core PCE, juga akan tumbuh setidaknya 0,3%.

"Hal itu bisa menjadi pemicu bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga secepatnya pada pertemuan Juli," kata Attrill dalam sebuah podcast.

Berdasarkan median proyeksi ekonom, inflasi inti AS pada Juni diperkirakan naik 0,2% secara bulanan.

Data LSEG menunjukkan kontrak berjangka suku bunga Fed saat ini mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga sekitar 30 basis poin sepanjang tahun ini.

Baca Juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% di Kuartal II-2026, Lebih Tinggi dari Ekspektasi

Yen Kembali Mendekati Zona Intervensi

Yen Jepang diperdagangkan relatif stabil di level 162,40 per dolar AS. Posisi tersebut kembali membuat pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi otoritas Jepang karena mata uang Negeri Sakura masih berada di sekitar level terlemah dalam empat dekade.

Kepala Strategi Pasar Ebury Matthew Ryan menilai, pemerintah Jepang tampaknya sedikit melonggarkan toleransinya terhadap pelemahan yen, meskipun tetap siaga.

"Otoritas Jepang masih sangat waspada dan mengindikasikan bahwa intervensi yang lebih agresif masih mungkin dilakukan jika terjadi pergerakan ekstrem lebih lanjut," ujar Ryan.

Yen melemah terhadap dolar pada Senin setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintah Jepang belum memiliki rencana dalam waktu dekat untuk mengubah alokasi aset dana pensiun negara.

Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Membara: Rudal dan Drone Hantam Fasilitas Militer di Teluk

Kabar tersebut meredam harapan pasar terhadap dukungan tambahan bagi aset domestik Jepang.

Sebelumnya pada Jumat, yen dan obligasi Jepang sempat menguat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah akan mencari cara untuk mendorong dana pensiun, termasuk Government Pension Investment Fund (GPIF), meningkatkan investasi pada aset keuangan domestik.

Sementara itu, dolar Australia diperdagangkan di US$ 0,6915, sedangkan dolar Selandia Baru (kiwi) naik 0,24% menjadi US$ 0,5762 per dolar AS.

Di pasar kripto, bitcoin naik 0,23% ke level US$ 62.293,66 dan ether menguat 0,56% menjadi US$ 1.775,54.