Dolar AS Sulit Bangkit Selasa (27/1), Pasar Fokus ke Rapat The Fed



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada Selasa (27/1/2026), namun masih kesulitan mendapatkan momentum.

Pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi intervensi terkoordinasi mata uang oleh otoritas AS dan Jepang, sembari menantikan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu.

Pergerakan pasar valuta asing belakangan banyak terfokus pada yen Jepang, yang telah menguat hingga 3% dalam dua sesi terakhir.


Penguatan ini dipicu spekulasi bahwa AS dan Jepang melakukan pengecekan suku bunga (rate checks), yang sering dipandang sebagai sinyal awal intervensi resmi.

Baca Juga: Emas Tembus Rekor, Begini Proyeksi Morgan Stanley hingga Paruh Kedua 2026

Hal tersebut membantu yen bertahan di kisaran 153–154 per dolar AS, jauh dari level terlemahnya pada Jumat lalu di 159,23.

Terakhir, dolar tercatat menguat sekitar 0,4% terhadap yen ke level 154,75.

“Fakta bahwa sinyal ini datang dari AS memberi risiko tambahan bagi pasar, karena bisa mengindikasikan lebih dari satu pihak siap melakukan intervensi, berbeda dengan situasi sebelumnya,” ujar Parisha Saimbi, analis valas Asia emerging market dan pasar lokal di BNP Paribas.

“Itu juga menjelaskan mengapa pergerakan tidak hanya terjadi di dolar/yen, tetapi juga berdampak luas pada dolar secara keseluruhan.”

Meski belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Jepang maupun AS terkait pengecekan suku bunga, seorang sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Federal Reserve Bank of New York telah mengecek kurs dolar/yen dengan para dealer pada Jumat lalu.

Baca Juga: Setelah 844 Hari, Israel Matikan Jam Penanda Waktu Sejak Serangan 7 Oktober

Otoritas tinggi Jepang juga menyatakan pada Senin bahwa mereka terus berkoordinasi erat dengan AS terkait pergerakan nilai tukar.

Potensi intervensi ini membuat investor enggan mendorong yen melemah lebih jauh, meskipun ada kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Jepang.

Analis menilai ambang batas untuk intervensi terkoordinasi masih cukup tinggi. Data pasar uang Bank of Japan juga menunjukkan lonjakan yen pada Jumat kemungkinan bukan akibat intervensi langsung.

Tekanan Berat pada Dolar

Dolar AS masih berada di bawah tekanan kuat akibat berbagai faktor, termasuk keinginan Washington terhadap mata uang yang lebih lemah serta ketidakpastian kebijakan Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Korea Utara Tembakkan Rudal ke Laut Saat AS dan Korsel Adakan Pembicaraan Militer

Faktor-faktor ini berpotensi kembali memengaruhi pasar setelah keputusan The Fed pada Rabu.

“Kami punya rapat The Fed besok, dan pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati menjelang peristiwa itu,” kata Nick Rees, Head of Macro Research Monex.

Menurutnya, risiko utama bukan terletak pada keputusan suku bunga karena The Fed diperkirakan menahan suku bunga melainkan pada reaksi Trump terhadap keputusan tersebut.

Trump diperkirakan dapat segera mengumumkan kandidat pengganti Ketua The Fed Jerome Powell setelah keputusan suku bunga, terutama jika ia tidak mendukung sikap bank sentral.

“Ini berpotensi memicu volatilitas besar pada dolar,” ujar Rees.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Powell serta upaya untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook, yang berlangsung bersamaan dengan rapat kebijakan dua hari The Fed yang dimulai Selasa.

Baca Juga: India & Uni Eropa Pangkas Tarif Mobil, Minuman Keras, Tekstil pada Kesepakatan Dagang

Indeks dolar tercatat naik 0,2% ke level 97,27, menjadi penguatan pertama dalam empat hari terakhir.

Namun, sepanjang tahun ini dolar masih melemah sekitar 1% dan sempat menyentuh level terendah empat bulan di 96,808 pada Senin.

Sementara itu, euro melemah 0,2% ke US$1,1855, tidak jauh dari level tertinggi empat bulan di US$1,19075.

Pound sterling turun 0,07% ke US$1,3668, masih bertahan dekat puncak empat bulan sebelumnya.

Dolar Australia sedikit melemah, tetapi tetap berada di dekat level tertinggi 16 bulan di US$0,6941.

Selanjutnya: Rupiah Menguat 0,08% ke Rp 16.768 per Dolar AS pada Selasa (27/1), Ada Intervensi BI?

Menarik Dibaca: Tren Warna Biru 2026 dari Dulux, Ini Manfaatnya untuk Hunian