Dolar AS Terancam Berbalik, Yen Jepang Bisa Jadi Pilihan Valas dengan Valuasi Menarik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75% cenderung membuat dolar AS tetap terdukung di pasar valuta asing.

Melansir data Trading Economics pada Senin (3/8/2026) pukul 15.08 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 99,796 atau melemah 0,12% secara harian.

Di saat yang sama, pasangan mata uang USD/JPY berada di level 156,750 atau melemah 0,43% secara harian, sementara USD/CHF tercatat di level 0,80824 atau menguat 0,09% secara harian.


Baca Juga: Laba Emiten Haji Isam Pradiksi Gunatama (PGUN) Turun 46,71% per Semester I 2026

Arah pergerakan pasar valas saat ini sangat ditentukan oleh nada kebijakan moneter, laju inflasi, imbal hasil obligasi AS, serta dinamika sentimen risiko global.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menilai dampak penahanan suku bunga Fed sangat bergantung pada persepsi pasar.

Menurut Nanang, apabila pasar membaca keputusan tersebut sebagai hawkish hold atau sinyal suku bunga bertahan lebih lama, DXY berpotensi kembali menguat.

Untuk pasangan USD/JPY, keputusan Fed yang hawkish biasanya menopang penguatan dolar AS, sementara untuk USD/CHF, dolar yang lebih kuat akan menahan pergerakan franc Swiss.

Namun, CHF tetap memiliki dukungan saat pasar memasuki kondisi risk-off.

Selain keputusan suku bunga The Fed, Nanang menjelaskan pergerakan pasar valas dipengaruhi oleh perbedaan arah kebijakan bank sentral utama, imbal hasil US Treasury, harga minyak dunia, serta risiko geopolitik.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Nanang memandang yen Jepang (JPY) sebagai aset safe haven yang paling menarik dicermati dari sisi valuasi dan potensi pembalikan teknikal.

"Dalam kondisi sekarang, JPY menarik untuk dicermati dari sisi valuasi dan potensi pembalikan teknikal, tetapi CHF biasanya lebih defensif dan kurang punya upside sebesar JPY," ujar Nanang kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Triputra Agro (TAPG) Terima Suntikan Dividen Rp 450 Miliar dari Anak Usaha

Mengenai strategi transaksi, Nanang menyarankan pelaku pasar untuk menerapkan pendekatan defensif dan berbasis level, bukan mengejar breakout tanpa konfirmasi.

Investor dapat memanfaatkan strategi buy on weakness untuk akumulasi jangka menengah pada yen, bukan entry agresif di puncak pelemahan.

"Fokus pada USD/JPY bila mencari volatilitas dan katalis besar, karena paling peka terhadap Fed, BoJ, dan intervensi," jelas Nanang.

Sementara itu, franc Swiss lebih cocok difungsikan sebagai instrumen lindung nilai (hedge) portofolio daripada untuk mengejar penguatan besar.

Hingga akhir tahun 2026, Nanang memperkirakan Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di kisaran 98,5–102,5 dengan rentang paling realistis di area 100–103.

Untuk proyeksi pasangan mata uang, USD/JPY diproyeksikan berada di area 155–160 pada akhir tahun, meskipun sempat berpotensi menguji area 165–166 sebelum terkoreksi.

Adapun pasangan USD/CHF diperkirakan bergerak di rentang 0,7800–0,8150 hingga akhir tahun, dengan kemungkinan menguji level 0,8200–0,8250 apabila dolar AS kembali menguat.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham PGEO, BBCA, dan DSSA untuk Selasa (3/8)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News