KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) turun dari level tertinggi sebulan pada Senin (12/1/2026), setelah jaksa AS membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang menambah ketegangan dengan pemerintahan Trump. Melansir
Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terakhir tercatat melemah 0,3% ke level 98,899, menghentikan tren kenaikan lima hari berturut-turut.
Baca Juga: Australia Prioritaskan Antimoni, Galium, dan Rare Earth di Cadangan Strategis Sementara itu, harga emas melonjak ke rekor US$4.563,61 per ons troi setelah laporan The New York Times mengenai penyelidikan tersebut, sementara Powell mengeluarkan pernyataan video yang membela independensi bank sentral. “Powell tampaknya sudah cukup dengan kritik dari luar dan jelas mengambil sikap ofensif,” kata Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, Sydney. “Konflik terbuka antara The Fed dan pemerintahan AS—dan jika komentar Powell dianggap serius—tentu bukan kabar baik untuk dolar AS.” Dolar sempat menguat di perdagangan Asia awal pekan ini setelah laporan tenaga kerja AS Jumat lalu memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
Baca Juga: CEO Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Trump Meradang Selain itu, laporan ratusan kematian selama protes di Iran juga meningkatkan ketegangan geopolitik dan mendorong permintaan aset safe haven. “Kondisi ini seharusnya positif untuk dolar AS, tapi kenaikannya belum terlihat,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, Melbourne. “Pertanyaannya sekarang adalah apakah momentum protes terus berlanjut, dan apakah rezim menindak lebih keras, membuka kemungkinan intervensi AS.” Pasar keuangan bersiap menghadapi minggu data ekonomi yang padat, termasuk rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember pada Selasa, yang menjadi salah satu data penting sebelum rapat kebijakan moneter The Fed akhir Januari. “Inflasi AS masih di atas target 2,0% The Fed, sehingga kemungkinan membatasi kemampuan FOMC untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut kecuali terjadi perlambatan signifikan ekonomi AS,” tulis analis Standard Chartered.
Baca Juga: Protes Iran Terbesar Sejak 2022: 500 Orang Tewas, Ketegangan dengan AS Memuncak “Pasar tenaga kerja tidak memburuk lebih jauh, yang memberi tekanan naik pada imbal hasil Treasury AS dan dolar.” Selain itu, bank-bank besar mulai merilis laporan laba kuartal IV pekan ini, dengan pertumbuhan laba yang kuat menjadi sumber optimisme bagi investor saham. Putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif darurat Trump juga bisa diumumkan pekan ini. Di pasar mata uang, dolar melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,56, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi satu tahun. Euro menguat 0,2% ke US$1,1664, rebound dari level terendah sebulan.
Baca Juga: Korea Selatan Periksa Lonjakan Deposito Dolar di Tengah Pelemahan Won Dolar AS juga melemah 0,1% terhadap yuan Tiongkok offshore menjadi 6,968, sementara pound Inggris menguat 0,2% ke US$1,3433. Dolar Australia menguat 0,2% ke US$0,6704, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,2% ke US$0,5746. Bitcoin terakhir diperdagangkan naik 1% ke US$91.533,13, dan ether naik 0,3% ke US$3.127,37.