Dolar AS Tersungkur ke Level Terendah 10 Hari Usai Kabar Perdamaian AS–Iran



KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merosot hingga mencapai titik terendah dalam 10 hari terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada hari Senin (15/6/2026).

Penurunan ini terjadi menyusul kabar bahwa Amerika Serikat telah menyepakati kerangka perjanjian perdamaian dengan Iran, yang memicu penurunan harga minyak serta meningkatkan permintaan terhadap aset keuangan dengan tingkat risiko lebih tinggi.

Pada hari Minggu lalu, pejabat dari kedua negara mengonfirmasi bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dasar untuk mengakhiri konflik bersenjata, menghentikan blokade ekonomi yang diterapkan AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis tempat mengalirnya sepertiga pasokan minyak dunia.


Menanggapi kabar tersebut, harga minyak mentah dunia ikut terkoreksi turun. Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat anjlok lebih dari 4 persen ke angka 83,82 dolar AS per barel.

Meski pasar keuangan merespons positif berita perdamaian tersebut, nada kehati-hatian masih terasa kental di kalangan pelaku pasar. Hal ini didasari pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam wawancaranya bersama New York Times pada hari Minggu.

Baca Juga: Starbucks Korea Tutup Operasional Lebih Awal 22 Juni, Ada Apa?

Ia menegaskan bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan akhir terkait program nuklirnya bersama Amerika Serikat, pihaknya akan kembali melancarkan serangan militer ke Teheran. Sebagai alternatif lain, Trump juga menyatakan akan menjadikan AS sebagai "penjaga keamanan Timur Tengah" dengan imbalan 20 persen dari total pendapatan ekonomi kawasan tersebut.

Pergerakan nilai tukar mata uang utama menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Mata uang Euro berada di posisi 1,1607 dolar AS atau naik sebesar 0,35 persen selama perdagangan di pasar Asia. Sementara itu, Pound Sterling juga menguat 0,3 persen ke level 1,3448 dolar AS.

Mata uang yang sangat sensitif terhadap sentimen risiko juga ikut terdorong naik. Dolar Australia diperdagangkan di angka 0,7075 dolar AS, naik sekitar 0,50 persen, sedangkan Dolar Selandia Baru menguat 0,4 persen ke level 0,5854 dolar AS.

Indeks Dolar AS — yang mengukur kekuatan mata uang negeri Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk Yen Jepang dan Euro — tercatat turun 0,31 persen ke angka 99,492. Angka ini merupakan posisi terlemah indeks tersebut sejak tanggal 5 Juni lalu.

“Saya memprediksi nilai dolar akan terus mengalami penurunan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan. Kemungkinan besar kita akan melihat mata uang yang sangat dipengaruhi oleh risiko pasar, seperti Dolar Australia dan Yen Jepang, sedikit menguat. Namun, saya kira pergerakan nilainya tidak akan berubah secara drastis atau ekstrem,” ungkap Nick Twidale, Kepala Strategi Pasar di ATFX Global, Sydney.

“Akan ada banyak sikap menunggu dan melihat, terutama terkait seberapa cepat Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar aliran pasokan minyak kembali berjalan normal sepenuhnya. Proses ini dipastikan akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan hanya berminggu-minggu,” tambahnya.

Baca Juga: Lonjakan Kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo Capai 782 Kasus, 181 Meninggal

Sementara itu, nilai tukar Yen Jepang melemah hingga menyentuh level 160,150 terhadap satu dolar AS. Mata uang negara Sakura ini terus bergerak di sekitar ambang batas psikologis 160, yang secara luas dipandang sebagai batas kritis di mana otoritas keuangan Jepang berpotensi melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing untuk menstabilkan nilainya.

Bank Sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan akan menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir pada akhir pertemuan kebijakan dua hari yang berlangsung hingga 16 Juni mendatang.

Bank sentral tersebut juga diperkirakan akan memberikan sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman di masa mendatang. Langkah ini tetap dijalankan meski Gubernur BOJ berhalangan hadir sementara waktu, seiring fokus lembaga tersebut dalam menanggulangi risiko inflasi yang dipicu oleh dampak perang di Timur Tengah.

Keputusan ini akan menempatkan BOJ sejalan dengan arah kebijakan bank sentral besar lainnya yang mulai beralih ke pengetatan moneter, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) yang telah resmi menaikkan suku bunga acuan sesuai ekspektasi pasar pada hari Kamis lalu.