Dolar AS Tertekan Prospek Suku Bunga The Fed, Konflik Timur Tengah Batasi Pelemahan



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Jumat (17/7/2026), namun tetap berada di jalur pelemahan mingguan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Meski demikian, meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran membatasi pelemahan dolar karena memicu permintaan terhadap aset safe haven.

Konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran, menyusul saling serang yang berlangsung selama sepekan dan mengikis gencatan senjata bulan lalu, meningkatkan sentimen penghindaran risiko (risk-off). 


Kondisi tersebut turut mengangkat harga minyak mendekati level tertinggi dalam satu bulan sekaligus menopang permintaan terhadap dolar.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 100,72. 

Baca Juga: Goldman Sachs Tunda Prediksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed ke September 2026

Meski menguat tipis secara harian, indeks itu masih diperkirakan turun sekitar 0,24% sepanjang pekan ini setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam sebulan.

Strategis OCBC menilai dolar masih menjadi aset lindung nilai paling menarik di kelompok mata uang negara maju (G10) karena menawarkan imbal hasil yang relatif tinggi.

Mereka menyebut pergerakan dolar dalam jangka pendek masih akan mengikuti pola USD smile, yakni menguat ketika prospek ekonomi AS membaik dan ekspektasi suku bunga meningkat, maupun saat ketidakpastian global mendorong investor mencari aset aman.

Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan di level US$1,1437 dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,2%. 

Sementara itu, pound sterling berada di US$1,3476 dan menuju kenaikan mingguan sekitar 0,56%, atau menguat selama tiga pekan berturut-turut seiring meredanya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Inggris.

Yen Jepang bertahan di kisaran 162,39 per dolar AS, tidak jauh dari level terlemah dalam 40 tahun di 162,84 yang sempat dicapai awal bulan ini. 

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Konflik Timur Tengah Picu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pelaku pasar tetap mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama kembali menegaskan kesiapan pemerintah mengambil langkah tegas untuk menstabilkan nilai tukar.

Pelemahan dolar sepanjang pekan dipicu oleh data inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga konsumen mereda pada Juni. Kondisi itu memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir bulan ini.

Data ekonomi terbaru juga menunjukkan penjualan ritel AS masih tumbuh pada Juni, didorong lonjakan belanja daring meski penjualan di stasiun pengisian bahan bakar melemah akibat turunnya harga bensin. Di sisi lain, pasar tenaga kerja tetap menunjukkan ketahanan, sehingga memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II.

Meski inflasi mulai melandai, sejumlah pelaku pasar menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan harga telah sepenuhnya terkendali.

Manajer portofolio pendapatan tetap Federated Hermes, Karen Manna, mengatakan, "Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren disinflasi telah kembali menguat atau kekhawatiran terhadap inflasi telah sepenuhnya hilang."

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli kini turun menjadi sekitar 11%, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 25% sepekan sebelumnya. Pelaku pasar memperkirakan total kenaikan suku bunga hingga akhir tahun hanya sekitar 26 basis poin.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Fokus Tertuju pada Keputusan Suku Bunga The Fed

Direktur Senior Global Economic and Market Strategy MetLife Investment Management, Tani Fukui, menilai peluang kenaikan suku bunga pada Juli sangat kecil. Menurutnya, The Fed diperkirakan juga tidak akan menaikkan maupun menurunkan suku bunga sepanjang 2026.

Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru diperkirakan membukukan kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut, meski keduanya melemah pada perdagangan Jumat akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko. Yuan China juga terkoreksi dari level tertinggi dalam satu bulan terhadap dolar AS, tetapi masih berada di jalur penguatan mingguan ketiga secara beruntun.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke pertemuan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pekan depan. Mayoritas ekonom memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga, meski peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya dinilai semakin besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News