KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026), tertekan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia. Di sisi lain, dolar Australia menguat setelah pejabat bank sentral Australia memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih berpeluang terjadi. Mengutip
Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya bergerak stabil di level 101,78 pada Rabu.
Posisi ini menyusul pelemahan 0,2% pada perdagangan Selasa (20/10/2026), ketika dolar AS menyentuh level terendah dalam tiga pekan.
Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 16,7% pada September 2026, Ditopang Permintaan Chip AI Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak mengurangi daya tarik dolar AS setelah mata uang tersebut sebelumnya diuntungkan oleh permintaan aset aman di tengah gejolak pasar akibat konflik Timur Tengah dan perkembangan sektor kecerdasan buatan (AI). Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan sebelum terkoreksi. Investor mencermati perkembangan diplomasi Iran dan Pakistan, sekaligus mengantisipasi risiko pasokan akibat serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi dan laporan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk. Di pasar saham, Wall Street mencatat penguatan seiring dimulainya musim laporan keuangan perusahaan teknologi. Bursa saham Jepang dan Korea Selatan juga menguat pada perdagangan Rabu. Ekonom sekaligus ahli strategi valuta asing Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, mengatakan kinerja perusahaan teknologi besar dapat memengaruhi pergerakan dolar AS karena sentimen pasar saham dan prospek pertumbuhan ekonomi semakin berkaitan dengan kinerja sektor tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (21/10), Brent ke US$ 109,64 & WTI ke US$ 98,58 Menurut Kong, permintaan aset aman masih menjadi penopang dolar AS di tengah ketidakpastian global. Namun, permintaan tersebut berpotensi mereda apabila konflik Timur Tengah berakhir dan harga energi turun. Meski demikian, ia memperkirakan dolar AS masih berpeluang menguat secara moderat dalam beberapa bulan mendatang seiring meningkatnya aliran modal asing ke pasar AS. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,1% menjadi US$ 0,7013, mendekati level tertinggi dalam tiga pekan di US$ 0,7017 yang tercatat pada perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut terjadi setelah Deputi Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser menyampaikan bahwa prospek inflasi terlihat jauh lebih buruk. Pernyataan itu memunculkan kemungkinan bank sentral Australia kembali menaikkan suku bunga acuannya pada bulan depan. Hauser menyampaikan pandangan tersebut dalam konferensi yang diselenggarakan Citi. Ia mengatakan masih belum dapat memastikan apakah kenaikan suku bunga lanjutan diperlukan untuk merespons perkembangan inflasi.
Baca Juga: Ekspor Korea Selatan Periode 1–20 Oktober 2026 Melonjak 105%, Penjualan Chip Rekor Di pasar valuta asing lainnya, dolar AS bergerak stabil di level 158,33 yen Jepang, US$ 1,1229 per euro, dan US$ 1,33735 terhadap pound sterling. Pergerakan euro masih dibayangi ketidakpastian politik dan fiskal di Prancis. Pemerintah negara tersebut berencana memperkuat pengamanan dengan mengerahkan personel militer untuk mengantisipasi demonstrasi lanjutan setelah kerusuhan pada akhir pekan lalu. Pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama yang dijadwalkan berlangsung berurutan mulai Rabu pekan depan, termasuk Federal Reserve AS, European Central Bank, dan Bank of Japan. Pasar memperkirakan ketiganya akan mempertahankan suku bunga.
Adapun Reserve Bank of New Zealand dan Bank of Canada dijadwalkan mengumumkan kebijakan pada hari yang sama dengan The Fed. Pelaku pasar memperkirakan kedua bank sentral tersebut berpotensi menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin. Dolar Selandia Baru melemah 0,1% menjadi US$ 0,5677, sedangkan dolar Kanada bergerak stabil di C$ 1,4064 per dolar AS.
Baca Juga: Singapura Keluarkan Stok Masker N95 untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla