KONTAN.CO.ID - Dolar Australia (AUD) mencapai level setara dengan dolar Kanada (CAD) untuk pertama kalinya dalam lebih dari delapan tahun. Penguatan tersebut terjadi di tengah perbedaan prospek kebijakan suku bunga kedua negara yang semakin lebar. Melansir
Reuters pada Rabu (23/9/2026), dolar Australia diperdagangkan di sekitar C$1,0004. Sehari sebelumnya, mata uang tersebut menguat 0,2% dan sempat menyentuh level C$1,0012, atau posisi tertinggi dalam 8,5 tahun terakhir.
Baca Juga: Trump Sebut Kebebasan Akan Datang ke Kuba dalam Pidato di PBB Dolar Australia juga bergerak mendekati level tertinggi dalam 15 bulan terhadap euro di A$1,6082. Terhadap poundsterling, dolar Australia berada tidak jauh dari level tertinggi tiga bulan di A$1,8753. Penguatan dolar Australia terhadap sejumlah mata uang utama terutama dipicu perubahan tajam dalam ekspektasi kebijakan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA). Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan RBA akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,6% pada 29 September 2026. Fokus investor selanjutnya tertuju pada apakah bank sentral Australia masih membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya pada November. Sebaliknya, Bank of Canada (BoC) tertinggal dalam siklus pengetatan moneter global. BoC telah mempertahankan suku bunga di level 2,25% selama hampir satu tahun, seiring inflasi yang relatif terkendali dan ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang dengan AS. Pasar kini memperkirakan peluang yang seimbang bagi BoC untuk menaikkan suku bunga pada bulan depan. "Menurut saya, ini sangat konsisten dengan perubahan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga RBA," kata Ray Attrill, Kepala Strategi Valas National Australia Bank.
Baca Juga: Harga Emas Spot Stagnan di US$4.356,92 Rabu (23/9), Investor Pantau Arah Suku Bunga Ia menambahkan, penurunan harga minyak, yang merupakan salah satu komoditas ekspor utama Kanada, kemungkinan turut menekan dolar Kanada dalam beberapa hari terakhir. Attrill juga menyatakan skeptis bahwa kenaikan suku bunga BoC yang saat ini diperhitungkan pasar akan benar-benar terealisasi hingga akhir tahun. Terhadap dolar AS, dolar Australia relatif stabil di US$0,7113 setelah turun 0,1% pada perdagangan sebelumnya. Mata uang tersebut menghadapi level resistance di sekitar US$0,7140, dengan support di US$0,7075. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data ketenagakerjaan Australia yang akan dirilis Kamis. Ekonom memperkirakan jumlah lapangan kerja meningkat sekitar 20.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,5%. Kenaikan pengangguran yang tajam dan di luar perkiraan kemungkinan diperlukan untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga RBA pekan depan. Gubernur RBA Michele Bullock sebelumnya mengatakan tingkat pengangguran pada kisaran 4,5% hingga 5% dapat membantu menekan inflasi.
Baca Juga: Korsel Bakal Kurangi Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah Jadi 50% pada 2035 Sementara itu, dolar Selandia Baru (NZD) melemah 0,2% menjadi US$0,5718 setelah sebelumnya turun dari level tertinggi satu minggu di US$0,5749. Dolar Selandia Baru telah merosot lebih dari 4% dari level puncaknya pada Agustus. Secara teknikal, mata uang tersebut masih berada dalam tekanan setelah bergerak di sekitar level terendah 11 minggu di US$0,5695. Pernyataan
hawkish dari Kepala Reserve Bank of New Zealand Anna Breman turut mendorong kenaikan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga ketiga tahun ini menjadi 3% pada Oktober. Peluang kenaikan tersebut kini diperkirakan sekitar 75%. Meski demikian, tingkat suku bunga Selandia Baru masih berada di bawah banyak negara maju lainnya.