Dolar Australia Sentuh Level Tertinggi 4 Tahun, Dolar Selandia Baru Ikuti Penguatan



KONTAN.CO.ID - Dolar Australia (Aussie) menguat ke level tertinggi dalam empat tahun pada Rabu (6/5/2026), didorong reli pasar saham global seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai terkait konflik Timur Tengah.

Sementara itu, dolar Selandia Baru (kiwi) juga menguat mendekati level tertinggi dalam dua bulan.

Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi Hampir 3 Tahun Rabu (6/5), Apa Pemicunya?


Penguatan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Ia juga mengungkapkan adanya kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, yang meningkatkan optimisme berakhirnya konflik dalam waktu dekat.

Sebagai mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko global, dolar Australia naik 0,8% ke level US$0,7240, tertinggi sejak Juni 2022.

Pelaku pasar kini mengincar level resistance berikutnya di US$0,7283, dengan support kuat di kisaran US$0,71.

Dolar Selandia Baru turut menguat 0,7% ke US$0,5927, meski menghadapi resistance di level US$0,5929 yang beberapa kali gagal ditembus dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Demam AI Dorong Bursa Korea Menggila, Samsung Tembus Kapitalisasi US$ 1 Triliun

Analis Commonwealth Bank of Australia Madison Cartwright menilai bahwa meskipun operasi militer AS berpotensi dilanjutkan kembali, pemerintah AS kemungkinan akan lebih fokus menjaga gencatan senjata mengingat tingginya biaya ekonomi dan politik dari konflik yang berkepanjangan.

“Kami memperkirakan resolusi konflik dapat tercapai pada akhir Mei atau tidak lama setelahnya,” ujarnya.

Dari sisi domestik, data Selandia Baru menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 5,3% pada kuartal I-2026 dari sebelumnya 5,4%.

Namun, pertumbuhan lapangan kerja hanya naik 0,2%, di bawah ekspektasi, yang menandakan pasar tenaga kerja masih lemah.

Kondisi ini belum banyak mengubah ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of New Zealand.

Baca Juga: Menlu China Bertemu Menlu Iran di Beijing, Bahas Konflik Selat Hormuz

Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Mei hanya sekitar 34%, namun peluang kenaikan pada Juli sudah sepenuhnya diperhitungkan, seiring meningkatnya risiko inflasi akibat konflik Iran.

Dalam laporan stabilitas keuangan terbaru, bank sentral Selandia Baru menyatakan sistem keuangan tetap tangguh meski risiko global meningkat.

Namun, pemulihan ekonomi diperkirakan melambat dan dapat berdampak pada pertumbuhan lapangan kerja.

Sementara itu di Australia, peluang kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia pada Juni diperkirakan sekitar 20%.

Baca Juga: Won Korea Selatan Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Rabu (6/5) Pagi, Rupiah ke Rp17.370

Sepanjang tahun ini, bank sentral telah menaikkan suku bunga tiga kali, memberikan ruang bagi otoritas untuk mengevaluasi dampak konflik Iran terhadap perekonomian.

Namun, National Australia Bank justru memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga lanjutan pada Juni, dengan alasan tingkat suku bunga saat ini di level 4,35% masih belum cukup ketat untuk meredam tekanan inflasi.