KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur penguatan mingguan pertamanya dalam tiga pekan terakhir pada Jumat (24/4/026), seiring mandeknya negosiasi damai antara AS dan Iran yang meredupkan harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah dalam waktu dekat. Di saat yang sama, Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga pekan menjelang masa berakhirnya pada Minggu.
Baca Juga: Iran Pamer Kendali Selat Hormuz, Israel Ancam Serangan Baru yang Lebih Mematikan Namun, Iran menunjukkan kendalinya atas Selat Hormuz dengan merilis rekaman pasukannya yang menyergap sebuah kapal kargo besar. Hal ini membuat waktu pembukaan kembali jalur pelayaran penting dunia tersebut menjadi tidak pasti. Melansir
Reuters, analis senior di Mitsubishi UFJ Bank Akihiko Yokoo mengatakan, harga minyak mentah yang tetap tinggi di tengah buntu pembicaraan AS-Iran turut menopang penguatan dolar. “Di tengah laporan bahwa pembicaraan AS dan Iran tidak menunjukkan kemajuan, harga minyak mentah tetap kuat dan mendukung lingkungan yang kondusif bagi penguatan dolar,” ujarnya dalam catatan riset.
Baca Juga: Gencatan Senjata Lebanon–Israel Diperpanjang 3 Pekan Usai Perundingan di Gedung Putih Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang utama seperti yen dan euro, tercatat relatif stabil di level 98,81. Meski demikian, indeks ini tetap berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 0,59%. Euro naik tipis 0,02% ke level US$1,1685, sementara poundsterling melemah 0,01% ke US$1,3466. Dolar kembali diminati sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Mata uang ini sempat menguat pada Maret ketika kekhawatiran konflik meningkat, namun sempat terkoreksi pada bulan ini seiring munculnya optimisme penyelesaian konflik. Di sisi lain, yen Jepang melemah untuk hari kelima berturut-turut terhadap dolar, turun 0,01% ke level 159,75 per dolar AS. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, kembali mengingatkan kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.
Baca Juga: Media Malaysia Soroti Rencana RI Incar “Cuan” dari Selat Malaka, Apa Kata Mereka? Ia menegaskan pemerintah siap mengambil langkah “tegas” terhadap pergerakan spekulatif. Menurut Yokoo, upaya otoritas Jepang menahan pelemahan yen membuat mata uang tersebut sulit menembus level 160 per dolar dalam waktu dekat. Dari sisi fundamental, inflasi inti Jepang tercatat berada di bawah target 2% bank sentral untuk dua bulan berturut-turut pada Maret. Namun, analis memperkirakan inflasi akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan, seiring kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah. Bank of Japan dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter selama dua hari yang berakhir Selasa pekan depan.
Baca Juga: Nike Alami Pendarahan, PHK 1.400 Karyawan untuk Selamatkan Bisnis Bank sentral diperkirakan menahan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun tetap memberi sinyal potensi kenaikan guna meredam tekanan inflasi. Sementara itu, European Central Bank diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada akhir April dan mulai menaikkannya pada Juni, guna merespons lonjakan harga energi akibat konflik. Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia menguat 0,04% ke US$0,7131, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,07% ke US$0,5856. Pada aset kripto, Bitcoin naik 0,71% ke US$78.474,55, sementara Ethereum menguat 0,41% ke US$2.335,99.