KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat masih berada di bawah tekanan pada Kamis (29/1/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik AS. Sentimen negatif tersebut hanya sedikit teredam oleh pernyataan dukungan dari Gedung Putih dan sejumlah pejabat Eropa setelah mata uang AS sempat terpuruk tajam. Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) mengambil nada yang lebih optimistis terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi.
Baca Juga: China Mencatat Rekor Suhu Terpanas di 2025 Sikap tersebut ditafsirkan investor sebagai sinyal bahwa suku bunga acuan berpotensi dipertahankan lebih lama. Dolar sempat jatuh bebas awal pekan ini dan menyentuh level terendah dalam empat tahun, setelah Presiden AS Donald Trump terkesan meremehkan pelemahan mata uang negaranya. Namun, tekanan sedikit mereda ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kembali bahwa Washington tetap menganut kebijakan dolar kuat. Ketua The Fed Jerome Powell juga mengisyaratkan bahwa masih dibutuhkan waktu lama sebelum pemangkasan suku bunga lanjutan dilakukan. Sejumlah ekonom menilai ekonomi AS saat ini belum menunjukkan urgensi untuk pelonggaran kebijakan tambahan.
Baca Juga: Harga Emas Meledak! Dekati US$5.600, Akankah Terus Melaju? “Meski prospeknya masih tidak pasti, terutama menjelang penunjukan Ketua The Fed yang baru dalam beberapa bulan ke depan, skenario dasar kami adalah siklus penurunan suku bunga telah berakhir karena perbaikan pasar tenaga kerja masih berlanjut,” ujar Kepala Ekonom Macquarie Group, David Doyle. Ia bahkan memperkirakan langkah kebijakan berikutnya justru berupa kenaikan suku bunga, yang berpotensi terjadi pada kuartal IV 2026. Di pasar valuta asing, euro yang sempat menembus level psikologis US$1,20 akibat pelemahan dolar, bergerak sedikit melemah ke US$1,1980. Pelemahan tersebut terjadi setelah para pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak deflasi dari penguatan euro yang terlalu cepat.
Baca Juga: Menteri Perindustrian Korea Selatan Tiba di Washington untuk Bahas Peringatan Tarif Meski demikian, anggota Dewan ECB Isabel Schnabel menegaskan kebijakan moneter berada dalam posisi yang “cukup baik” dan suku bunga diperkirakan bertahan di level saat ini untuk jangka waktu yang panjang. Pasar keuangan pun masih memproyeksikan suku bunga stabil hingga awal 2027. Pelemahan dolar belakangan dinilai dapat menekan inflasi impor, terutama ketika laju inflasi Eropa diperkirakan berada di bawah target ECB sebesar 2%. Walaupun aksi jual dolar mulai mereda, mata uang AS masih berada dalam posisi lemah terhadap sejumlah mata uang utama. Dolar turun 0,33% terhadap franc Swiss ke level 0,766, mendekati titik terendah 11 tahun. Pound sterling bertahan di sekitar level tertinggi dalam 4,5 tahun di US$1,3844. Dolar Australia menguat 0,45% ke US$0,7073, menyentuh level tertinggi tiga tahun, didorong spekulasi kenaikan suku bunga domestik dalam waktu dekat. Indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat di level 96,06, tidak jauh dari titik terendah empat tahun di 95,566 yang dicapai awal pekan ini.
Baca Juga: Pemerintah AS Terancam Shutdown Lagi, Donald Trump Negosiasi dengan Senat AS Pelemahan dolar turut memberi ruang bagi penguatan yen Jepang, yang naik 0,13% ke 153,23 per dolar AS.
Yen bergerak di kisaran 152–154 sepanjang pekan ini, seiring spekulasi potensi intervensi setelah adanya komunikasi kebijakan antara AS dan Jepang. Sementara itu, dolar Selandia Baru mendekati level tertinggi tujuh bulan di US$0,60925. Yuan China bertahan di sekitar level tertinggi 32 bulan dan diperdagangkan stabil di 6,9471 per dolar AS.