KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) dalam tren naik di awal tahun 2026. Kondisi ini dinilai berpotensi memperpanjang tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Melansir Trading Economics pada Senin (12/1/2026) pukul 17.16 WIB, indeks dolar AS berada di level 98,798 atau menguat 0,48% secara mingguan dan 0,44% secara bulanan. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo meyebut, tren kenaikan index dolar (DXY) di awal tahun ini karena kombinasi data ekonomi AS yang masih tangguh dan komunikasi politik yang tidak terduga.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas pada Selasa (13/1), Ini Saham Rekomendasi Analis Meski terdapat perlambatan di sektor tenaga kerja, sektor lain seperti penjualan rumah dan aktivitas manufaktur masih menunjukkan ketahanan, sehingga pasar mulai meremehkan potensi pemangkasan suku bunga agresif oleh The Federal Reserve (The Fed). Namun, faktor kejutan terbesar datang dari risiko institusional menyusul dugaan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. Ketidakpastian terhadap independensi bank sentral AS tersebut justru mendorong investor global berlindung pada dolar AS sebagai safe haven, seiring meningkatnya ekspektasi volatilitas kebijakan moneter. Memasuki sisa kuartal I-2026, Sutopo memperkirakan DXY akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bullish terbatas. Indeks dolar AS masih berpeluang menguji level psikologis 100,00, terutama jika ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed berlanjut atau inflasi AS kembali melonjak di luar ekspektasi. Meski demikian, ia menilai penguatan di atas level 100 cenderung bersifat sementara. Pasar akan mencermati rilis data inflasi pertengahan kuartal serta perkembangan penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ) terhadap Powell. Jika isu tersebut berujung pada pengunduran diri, koreksi tajam DXY dinilai berpotensi terjadi akibat hilangnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas moneter AS.
Baca Juga: Cetak Rekor Baru! Bagaimana Perak Diperdagangkan di Pasar Global? Di sisi lain, penguatan DXY memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Penguatan dolar menyebabkan spread imbal hasil atau selisih imbal hasil antara obligasi AS (US Treasury) dan Surat Berharga Negara (SBN) semakin menyempit, sehingga memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (12/1/2026). Pada kuartal I 2026, rupiah akan menghadapi tantangan ganda, yakni tekanan dolar AS yang kuat dan sentimen domestik yang masih berhati-hati. Selama DXY bertahan di atas level 98,5, tekanan jual terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut karena pelaku pasar cenderung menahan dolar sebagai langkah mitigasi risiko global. Meski demikian, Sutopo menilai fundamental rupiah masih memiliki bantalan berupa cadangan devisa yang memadai. Untuk kuartal I 2026, Sutopo memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.700 – Rp 16.950 per dolar AS. Potensi pelemahan hingga Rp16.900 terbuka lebar jika data inflasi Januari menunjukkan kenaikan. Adapun untuk menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, kata Sutopo dibutuhkan guncangan global yang jauh lebih ekstrem, baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi.
Baca Juga: Siap Ekspansi, Ini Prospek dan Rekomendasi Saham Sariguna Primatirta (CLEO) Dalam kondisi tersebut, BI diperkirakan intervensi aktif di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF) guna menjaga volatilitas rupiah agar tidak lepas kendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News