Dolar Melemah dan Intervensi US Treasury Memicu Reli Emas, Intip Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya dengan bergerak bangkit di atas level US$ 4.600 per ons troi.

Penguatan ini mengonfirmasi pembalikan arah (bullish reversal) jangka menengah, sekaligus mematahkan anggapan bahwa suku bunga acuan yang tinggi akan selalu menekan pergerakan logam mulia.

Mengutip data Bloomberg, emas sempat melonjak hingga 1,1% ke level US$ 4.639,45 per ons troi. Sepanjang bulan Agustus saja, harga emas dunia tercatat telah melesat hampir 15% dari posisi di bawah US$ 4.000 per ons troi.


Penguatan tajam ini di satu sisi memicu pertanyaan bagi pelaku pasar, mengingat secara teori konvensional, suku bunga yang bertahan di level tinggi umumnya meningkatkan holding cost atau opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Baca Juga: Sepekan Ditawarkan, Bareksa Optimistis Penjualan SR025 Capai Rp 30 Triliun

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pergerakan emas saat ini bukanlah sekadar anomali, melainkan akibat konvergensi beberapa faktor makro utama.

Pemicu utama reli emas belakangan ini adalah perubahan signifikan pada lanskap likuiditas dan kebijakan fiskal-moneter Amerika Serikat (AS), terutama setelah langkah mengejutkan dari Departemen Keuangan AS (US Treasury).

"Intervensi likuiditas US Treasury melipatgandakan program pembelian kembali obligasi (liquidity support buybacks) tenor panjang dari US$ 2 miliar menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi yang efektif September 2026. Langkah ini secara de facto berfungsi sebagai injeksi likuiditas yang menahan lonjakan yield US Treasury tenor 10 tahun di area 4,69% hingga 4,70%," ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).

Kebijakan tersebut meredakan dislokasi pasar obligasi sekaligus menahan keperkasaan Indeks Dolar AS (DXY) di bawah level 99,00. Sejalan dengan hal tersebut, laporan Bloomberg menggarisbawahi bahwa upaya pemerintah AS dalam mengendalikan beban utang negara telah menghidupkan kembali fenomena debasement trade, di mana investor memburu emas sebagai alat pelindung nilai (hedge) dari pembengkakan defisit anggaran AS dan potensi pelemahan dolar jangka panjang. 

Analis Zijin Tianfeng Futures Co., Liu Shiyao, menegaskan dalam laporan Bloomberg bahwa meskipun emas sempat tertekan akibat data inflasi AS, kekuatan tren teknikalnya masih terjaga.

"Bahkan setelah penurunan pada hari Rabu, harga emas masih berada di sekitar level rata-rata pergerakan lima hari, yang merupakan tanda kekuatan," kata Liu.

Menurutnya, pemulihan harga yang konsisten dalam beberapa pekan terakhir juga berhasil membawa emas bergerak di atas indikator moving average 200 hari (MA-200), yang kerap dijadikan tolok ukur penting untuk tren jangka panjang.

Baca Juga: IHSG Menguat 1,81% ke 6,521 pada Kamis (27/8/2026), DEWA, CUAN, BUMI Top Gainers LQ45

Selain intervensi Treasury, Wahyu menambahkan sentimen pendorong struktural lainnya, seperti aksi akumulasi cadangan devisa berbasis emas oleh bank sentral global dalam rangka dedolarisasi, serta tingginya permintaan lindung nilai akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian tarif perdagangan global.

Data inflasi AS (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang baru-baru ini dirilis berada di atas ekspektasi, memicu kekhawatiran bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga ketat lebih lama.

Selain itu, pasar saat ini sedang mencermati pidato perdana Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed pada simposium tahunan Jackson Hole untuk membaca arah kebijakan suku bunga.

Apabila inflasi energi melonjak atau komentar pejabat The Fed justru cenderung ketat (hawkish), harga emas berpotensi terkoreksi sementara. 

"Namun, peluang emas untuk mencetak rekor tertinggi baru (All-Time High) hingga akhir tahun 2026 masih tergolong moderat hingga tinggi, yakni sekitar 60% hingga 70%. Jika DXY tertembus ke bawah 96,50, emas berpeluang menguji resistensi psikologis di rentang US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi," jelas Wahyu.

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,11% ke Rp 17.744 per Dolar AS pada Kamis (27/8/2026)

Untuk pasar domestik, ia memproyeksikan harga emas Antam berpotensi menyentuh kisaran Rp 2,95 juta hingga Rp 3,10 juta per gram pada skenario bullish akhir tahun ini.

Melihat dinamika pasar yang masih volatil namun menyimpan tren positif jangka panjang, investor disarankan menerapkan metode Dollar-Cost Averaging (DCA) dengan memanfaatkan fase konsolidasi atau koreksi jangka pendek untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

Pembelian pada area koreksi harga emas dunia di kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.450 per ons troi atau emas Antam di area Rp 2,65 juta hingga Rp 2,70 juta per gram merupakan zona masuk yang ideal dengan rasio risk-reward optimal.

Investor juga dianjurkan mempertahankan porsi emas sebesar 10% hingga 20% dari total aset portofolio sebagai jangkar pelindung nilai (wealth preservation), serta tidak terburu-buru melakukan aksi ambil untung (take profit) mengingat fundamental pelonggaran likuiditas AS dan tren dedolarisasi global masih menjadi motor penggerak utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News