KONTAN.CO.ID - Pergerakan dolar AS cenderung melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026), seiring pelaku pasar menanti perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran di kawasan Teluk. Mengutip
Reuters, investor mulai melirik mata uang berisiko lebih tinggi di tengah harapan tercapainya kesepakatan. Namun, ketidakpastian masih membayangi karena Teheran belum memutuskan langkah selanjutnya dalam proses diplomatik setelah eskalasi terbaru.
Baca Juga: Bursa Australia Datar Selasa (21/4) Pagi, Investor Tunggu Hasil Negosiasi AS-Iran Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi berlangsung relatif cepat dan diyakini dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Pelaku pasar menilai kedua pihak memiliki kepentingan kuat untuk mencapai titik temu. Euro tercatat di level US$1,1782, sementara poundsterling di US$1,35225, keduanya melemah sekitar 0,1%. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko juga turun 0,1% ke US$0,7171. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, stabil di level 98,087 setelah turun 0,2% pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Roket Blue Origin Milik Jeff Bezos Gagal, Regulator AS Minta Investigasi Menyeluruh Analis mata uang dari Commonwealth Bank of Australia menyebut perundingan AS-Iran akan menjadi penggerak utama pasar dalam 24 jam ke depan. Untuk saat ini, pasar masih dalam mode
wait and see. Di Asia, yen Jepang masih berada di bawah tekanan dan diperdagangkan di level 158,955 per dolar AS, mendekati ambang psikologis 160 yang dipandang sebagai titik potensi intervensi. Tekanan terhadap yen juga dipicu ekspektasi bahwa Bank of Japan akan menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah dinilai masih membayangi prospek ekonomi dan inflasi Jepang.
Baca Juga: Jepang Longgarkan Aturan Ekspor Senjata, Buka Peluang Masuk Pasar Global Sementara itu, dolar Selandia Baru (kiwi) menguat 0,3% ke US$0,59085 setelah data menunjukkan inflasi tahunan tetap di level 3,1% pada kuartal I, di atas target bank sentral. Kondisi ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Dari Amerika Serikat, perhatian pasar juga tertuju pada proses pencalonan Kevin Warsh sebagai pimpinan Federal Reserve. Dalam sidang konfirmasi di Senat, ia menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi kebijakan moneter. Selain itu, investor menunggu rilis data penjualan ritel AS untuk Maret yang diperkirakan naik 1,4%, yang dapat memberikan petunjuk tambahan terkait arah kebijakan suku bunga ke depan.