Dolar Melonjak ke Level Tertinggi 2 Bulan Jumat (15/5) Pagi, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat (15/5/2026) dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari dua bulan terakhir, seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi dan gangguan jalur pelayaran global.

Sentimen pasar juga dipengaruhi ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga dalam tahun ini.

Baca Juga: OpenAI vs Elon Musk Memanas, Pengacara Sebut Altman Lakukan Amnesia Selektif


Inflasi dan Energi Dorong Penguatan Dolar

Kenaikan harga energi serta terganggunya arus perdagangan global telah memicu kekhawatiran inflasi yang lebih persisten di AS.

Kondisi ini memperkuat posisi dolar di pasar global, karena investor menilai The Fed bisa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS tercatat naik ke level tertinggi dua minggu di 98,98 terhadap sejumlah mata uang utama.

Secara mingguan, indeks tersebut diperkirakan menguat lebih dari 1%, menjadi kenaikan terbesar sejak awal Maret.

Baca Juga: Akui Sentilan Xi Jinping, Trump: Amerika Kini Kembali Jadi Negara Terkuat di Dunia

Pasar Pantau Negosiasi Trump–Xi

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan hari kedua pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Dalam pembahasan awal, kedua pemimpin disebut memiliki kesepahaman untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang sebelumnya terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Xi juga disebut menunjukkan ketertarikan untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah.

Namun, reaksi pasar terhadap pertemuan tersebut masih terbatas karena investor menunggu rincian lebih lanjut.

Baca Juga: LVMH Lepas Marc Jacobs, WHP Global dan G-III Ambil Alih Kepemilikan

Yuan Stabil, Yen dan Euro Tertekan

Yuan offshore China bergerak di dekat level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, berada di posisi 6,7874 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang melemah ke kisaran 158,45 per dolar AS, mendekati level terlemah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu kewaspadaan terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang.

Euro juga melemah 0,04% ke posisi US$1,1662, dan diperkirakan mencatat penurunan mingguan lebih dari 1%.

Poundsterling turun ke level terendah satu bulan di US$1,3385, sementara dolar Australia dan Selandia Baru juga mengalami pelemahan tipis akibat penguatan dolar AS.

Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Williams: Kebijakan Sudah di Posisi Tepat

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Naik

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember naik menjadi lebih dari 44%, dari sebelumnya sekitar 22,5% pekan lalu.

Analis menilai tekanan inflasi yang masih tinggi, ditambah ketahanan ekonomi AS, membuat The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan ketat lebih lama sebelum mulai melonggarkan kembali pada 2027.