Dolar Mendekati Level Tertinggi 2 Pekan Selasa (15/9), Tunggu Kenaikan Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan bergerak mendekati level tertinggi dalam dua pekan pada Selasa (15/9/2026).

Penguatan dolar ditopang lonjakan harga minyak yang mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury serta memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Dolar juga mendapat dukungan dari melemahnya selera risiko investor setelah pasar saham global tertekan.


Baca Juga: Bos ANZ Kritik Pajak Tinggi Australia, Hambat Jadi Pusat Keuangan Asia

Saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) ikut melemah setelah sejumlah pemimpin industri menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut untuk membatasi potensi ancaman terhadap umat manusia.

Pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Rabu (16/9). Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga mencapai sekitar 93%.

Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama dilakukan The Fed dalam lebih dari tiga tahun.

"Perpaduan antara harga minyak yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil US Treasury dan melemahnya selera risiko membantu mengangkat dolar AS secara luas," kata Christopher Wong, analis valuta asing di OCBC, dalam catatannya.

Menurut Wong, dukungan terhadap dolar berpotensi bertahan dalam jangka pendek.

Namun, karena kenaikan suku bunga sudah banyak diperhitungkan oleh pasar, penguatan dolar lebih lanjut kemungkinan membutuhkan sinyal dari The Fed bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan masih terbuka.

Baca Juga: Harga Rumah China Terus Turun, Krisis Properti Belum Juga Berakhir

Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama terakhir berada di level 99,55.

Euro melemah tipis terhadap dolar menjadi US$ 1,1538 per euro. Poundsterling juga turun menjadi US$ 1,3494.

Sementara itu, yen Jepang melemah sekitar 0,2% menjadi 154,72 per dolar, menjauh dari level tertinggi dalam tujuh bulan.

Pergerakan yen berlangsung menjelang pertemuan Bank of Japan (BOJ) pada Jumat (18/9), yang juga diperkirakan menaikkan suku bunga.

Harga minyak melonjak

Harga minyak menjadi salah satu pendorong utama kenaikan ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi AS. Harga minyak naik hingga mendekati US$ 107 per barel, berada di sekitar level tertinggi dalam empat bulan.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke Arab Saudi, sementara pembicaraan antara negara-negara Teluk dan Iran ditunda.

Baca Juga: Saham Asia Terombang-ambing Selasa (15/9), Minyak Tembus US$106 dan Yield AS Capai 5%

Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus level psikologis 5% pada perdagangan sebelumnya. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2023.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun terakhir berada di sekitar 4,9895%.

Tekanan inflasi tersebut muncul setelah data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan serta kenaikan harga konsumen pada Agustus.

Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini.

Ekonom yang disurvei Reuters juga memperkirakan setidaknya masih akan ada satu kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir Maret 2027.

Perkiraan tersebut membalikkan konsensus sebelumnya yang cenderung mempertahankan suku bunga, sebelum data resmi pada Jumat menunjukkan tekanan inflasi yang lebih kuat.

Baca Juga: Kim Jong Un Dukung “Perang Suci” Putin, Korea Utara Makin Dekat dengan Rusia

Analis BCA menilai, prospek inflasi ke depan kini sangat bergantung pada perkembangan harga minyak.

Namun, kondisi makroekonomi yang lebih luas dinilai belum membutuhkan kenaikan suku bunga lebih banyak dari yang saat ini sudah tercermin dalam pasar.

"Terbatasnya sikap hawkish setelah ini mengindikasikan potensi penguatan dolar yang juga terbatas," tulis analis BCA dalam catatannya.

Di pasar Asia, dolar Selandia Baru dan dolar Australia masing-masing melemah sekitar 0,1% menjadi US$ 0,5769 dan US$ 0,7133.

Sementara itu, yuan China di pasar offshore relatif datar di level 6,708 per dolar AS. Yuan masih berada di dekat level terkuat dalam lebih dari tiga tahun, menjelang rilis data produksi industri dan penjualan ritel China pada Selasa.