KONTAN.CO.ID - Dolar AS bangkit dari level terendah terbarunya pada Kamis (19/2/2026) setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve menunjukkan para pembuat kebijakan belum terburu-buru untuk memangkas suku bunga. Bahkan, beberapa pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik, sementara penguatan dolar terhadap euro dan yen pada perdagangan semalam bertahan dalam sesi awal Asia. Euro tertahan di bawah level US$1,18.
Baca Juga: Ancaman Konflik: Militer AS Siaga, Iran Siapkan Proposal Dolar Australia diperdagangkan di level US$0,7045 menjelang rilis data ketenagakerjaan. Data yang kuat berpotensi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga di masa mendatang. Sementara itu, dolar Selandia Baru tertekan setelah bank sentral setempat menyampaikan sikap yang lebih berhati-hati terkait prospek kenaikan suku bunga, di bawah ekspektasi pasar. Kiwi anjlok hampir 1,4% semalam, penurunan harian terdalam sejak April tahun lalu dan diperdagangkan sedikit di bawah US$0,60 pada sesi pagi. Euro berada di US$1,1788 setelah turut tertekan oleh laporan bahwa Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, berencana meninggalkan jabatannya sebelum masa tugas berakhir pada Oktober tahun depan. Sementara itu, pound sterling berada di US$1,3497.
Baca Juga: Kim Jong Un: Target Militer Baru Korut Siap Guncang Dunia The Fed Terbelah, Pemangkasan Suku Bunga Tak Mendesak Risalah rapat menunjukkan para pejabat Federal Reserve masih terpecah mengenai arah suku bunga AS ke depan. Dokumen tersebut mengindikasikan bahwa ketua The Fed berikutnya yang dijadwalkan mulai menjabat pada Mei akan menghadapi tantangan jika ingin mendorong pemangkasan suku bunga. Sejumlah pejabat memperkirakan peningkatan produktivitas dapat membantu meredam inflasi. Namun, mayoritas peserta rapat menilai proses penurunan inflasi kemungkinan berjalan lambat dan tidak merata.
Baca Juga: Kilang Raksasa AS Buru Minyak Venezuela, Apa yang Terjadi? Beberapa bahkan menyatakan kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan jika inflasi tetap berada di atas target. “Ini menunjukkan tidak ada urgensi besar untuk kembali memangkas suku bunga, setidaknya sampai masa jabatan ketua saat ini, Jerome Powell, berakhir pada Mei,” ujar Peter Dragicevich, ahli strategi mata uang Asia-Pasifik di Corpay. Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks manajer pembelian (PMI) global dan produk domestik bruto (PDB) AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Yen Melemah, Investasi Jepang ke AS Jadi Sorotan Yen melemah terhadap dolar setelah penguatan greenback semalam, serta pengumuman pemerintahan Presiden Donald Trump terkait proyek senilai US$36 miliar sebagai bagian dari tahap awal realisasi komitmen investasi Jepang sebesar US$550 miliar di AS.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak Lebih dari 2% Rabu (18/2), di Tengah Ketegangan Geopolitik Mata uang Jepang turun sekitar 1% semalam dan stabil di level 154,78 per dolar pada Kamis, menjauh dari posisi 152 yang sempat diuji pekan lalu menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu. Selama bertahun-tahun, yen tertekan akibat suku bunga domestik yang rendah dan kekhawatiran terhadap prospek anggaran Jepang. Namun belakangan, mata uang ini sempat mendapat dukungan dari harapan pertumbuhan ekonomi. “Investasi langsung Jepang ke AS akan menjadi faktor penting yang perlu dicermati tahun ini, dan hal tersebut menambah gambaran yang sangat beragam terhadap pergerakan USD/JPY,” kata Chris Turner, Global Head of Research di ING.
Menurut Turner, pertanyaan bagi pasar valas tahun ini adalah apakah arus investasi tersebut akan memperkuat dolar, atau justru Jepang menggunakan cadangan devisanya untuk menjamin pinjaman baru dalam dolar AS guna menghindari tekanan lebih lanjut terhadap yen. Perdagangan di Asia relatif sepi karena libur di Hong Kong, China, dan Taiwan. Yuan Tiongkok relatif stabil di level 6,89 per dolar AS pada perdagangan offshore.